RadarBangkalan.id - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengungkap perkembangan terbaru terkait investigasi wabah botulisme pada bayi yang dikaitkan dengan susu formula merek ByHeart dan Nara Organics.
Investigasi menemukan adanya bakteri Clostridium botulinum pada salah satu bahan baku susu bubuk. Namun, hingga saat ini FDA belum dapat memastikan penyebab utama yang membuat kontaminasi tersebut memicu wabah.
Baca Juga: Mengenal Child Grooming, Modus Manipulasi Anak yang Diduga Terjadi di SMK Pamulang
Botulisme merupakan penyakit langka tetapi berbahaya yang menyerang sistem saraf. Penyakit ini terjadi akibat racun atau toksin yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum. Racun tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan otot hingga gangguan pernapasan yang mengancam nyawa.
Wabah botulisme yang berlangsung sejak akhir 2025 hingga awal 2026 tersebut secara resmi dinyatakan berakhir pada 26 Februari 2026. Sebanyak 48 bayi dari 17 negara bagian Amerika Serikat dilaporkan mengalami sakit akibat wabah tersebut.
FDA Temukan Bakteri pada Bahan Baku Susu Bubuk
Dalam proses penyelidikan, FDA melakukan pemeriksaan langsung terhadap fasilitas produksi ByHeart serta pemasok bahan baku susu bubuk.
Hasil analisis Whole Genome Sequencing (WGS) menunjukkan bahwa bakteri Clostridium botulinum yang ditemukan pada dua sampel dari satu batch susu bubuk organik memiliki kecocokan dengan bakteri yang ditemukan pada sampel klinis bayi yang sakit serta produk susu formula jadi yang dinyatakan positif.
Baca Juga: KemenPPPA Minta Publik Tak Sebarkan Foto Korban Penyekapan Bandung, Fokus Pemulihan Trauma
Meski demikian, FDA belum menemukan bukti lengkap mengenai bagaimana bakteri tersebut dapat masuk dan menyebabkan wabah.
FDA juga menegaskan bahwa pelanggaran keamanan pangan yang ditemukan dalam inspeksi fasilitas ByHeart pada 2023 tidak terbukti menjadi penyebab wabah botulisme pada periode 2025-2026.
Baca Juga: Dada Terasa Terbakar Jangan Diabaikan, Ini 10 Penyebab Mulai dari GERD hingga Serangan Jantung
ByHeart Perkuat Sistem Keamanan Produksi
Sebagai langkah perbaikan, ByHeart menyusun sejumlah tindakan untuk memperketat keamanan pangan dalam seluruh rantai produksinya.
Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain:
- Menerapkan metode pengujian Clostridium botulinum dengan tingkat sensitivitas lebih tinggi.
- Melakukan pemeriksaan terhadap seluruh bahan baku susu.
- Menguji setiap batch produk akhir sebelum dipasarkan.
- Memperluas audit terhadap pemasok bahan baku.
- Meningkatkan frekuensi pemeriksaan keamanan bahan produksi.
- Menggunakan sistem pelacakan batch berbasis kode QR.
- Membentuk Dewan Penasihat Keamanan Pangan independen.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi dan meningkatkan pengawasan terhadap produk susu formula bayi.
Baca Juga: Sering Sakit Perut Bagian Atas? Ini Perbedaan Maag, GERD, dan Gastritis yang Perlu Diketahui
FDA Siapkan Pencegahan Wabah Serupa
Selain investigasi terhadap ByHeart, FDA juga mulai menyusun strategi pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Lembaga tersebut akan meningkatkan pengambilan sampel pengawasan untuk mengetahui seberapa sering bakteri Clostridium botulinum ditemukan dalam susu bubuk.
FDA juga bekerja sama dengan lembaga internasional untuk melakukan kajian risiko terhadap bakteri pembentuk spora, termasuk Clostridium botulinum dan Bacillus cereus pada susu formula bayi.
Baca Juga: Kebiasaan Pagi Jeff Bezos yang Membantu Menjaga Fokus dan Produktivitas
Selain itu, FDA mendukung pembaruan kajian risiko terkait bakteri Cronobacter dan Salmonella pada susu formula bubuk, termasuk penyusunan standar pengendalian mulai dari proses produksi hingga penyajian.
Pentingnya Keamanan Susu Formula Bayi
Kasus wabah botulisme ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan pada produk bayi membutuhkan pengawasan ketat. Susu formula bayi memiliki standar produksi yang tinggi karena sistem imun bayi masih berkembang dan lebih rentan terhadap infeksi.
Baca Juga: Carbohydrate Mouth Rinse, Teknik yang Dipakai Atlet untuk Menjaga Performa
Orang tua juga disarankan selalu memperhatikan informasi penarikan produk (recall), mengikuti petunjuk penyimpanan dan penyajian susu formula, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila bayi menunjukkan gejala tidak biasa.
Editor : Ubaidillah