RadarBangkalan.id - Jepang dikenal sebagai negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia dan jumlah penduduk berusia 100 tahun ke atas yang terus meningkat setiap tahun. Namun, hasil sebuah survei justru menunjukkan mayoritas warga Jepang tidak ingin hidup hingga usia 100 tahun karena khawatir menjadi beban keluarga, mengalami penurunan kesehatan, hingga menghadapi masalah ekonomi.
Survei tersebut menunjukkan hanya sekitar 22 persen responden yang berharap dapat hidup lebih dari 100 tahun. Sebaliknya, sekitar 70 hingga 80 persen responden mengaku tidak ingin mencapai usia tersebut, meski Jepang memiliki populasi lansia yang terus bertambah.
Baca Juga: 10 Hewan yang Dianggap Punya Tingkat Kecerdasan Paling Rendah, Ada Koala hingga Ikan Mola-mola
Hanya 22 Persen Warga Jepang Ingin Hidup Lebih dari 100 Tahun
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, hingga September 2022 terdapat 90.526 orang berusia 100 tahun atau lebih, meningkat sekitar 4.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, survei yang dilakukan Japan Hospice Palliative Care Foundation terhadap sekitar 1.000 responden berusia 20 hingga 70 tahun menemukan hanya 22 persen yang ingin hidup melewati usia 100 tahun.
Perempuan tercatat lebih banyak menolak hidup hingga usia tersebut dibandingkan laki-laki. Sebanyak 83,5 persen perempuan menyatakan tidak ingin berusia lebih dari 100 tahun, sedangkan pada laki-laki angkanya mencapai 72,4 persen.
Perwakilan yayasan menyebut hasil tersebut cukup mengejutkan karena semakin banyak orang mulai mempertanyakan apakah usia yang sangat panjang benar-benar identik dengan kebahagiaan.
Baca Juga: Kasus Kanker di Indonesia Diprediksi Naik 70 Persen, Kenali 7 Gejala Awal yang Tak Boleh Diabaikan
Alasan Warga Jepang Tak Ingin Berusia 100 Tahun
Survei mengungkap beberapa alasan utama yang membuat masyarakat Jepang enggan hidup terlalu lama.
1. Tak Ingin Menjadi Beban Orang Lain
Alasan paling dominan dipilih oleh 59 persen responden. Mereka khawatir akan bergantung kepada keluarga atau orang lain ketika kondisi fisik semakin menurun di usia lanjut.
2. Kondisi Fisik Semakin Menurun
Sebanyak 48,2 persen responden merasa kualitas hidup akan memburuk akibat penurunan kesehatan ketika memasuki usia sangat lanjut.
Baca Juga: 7 Makanan Orang Jepang yang Diyakini Bantu Panjang Umur, Ada Matcha hingga Ubi Ungu
3. Khawatir Masalah Finansial
Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Sebanyak 36,7 persen responden mengaku cemas terhadap kondisi keuangan apabila harus menjalani kehidupan hingga usia yang sangat tua.
Mengapa Ada yang Tetap Ingin Hidup Hingga 100 Tahun?
Meski mayoritas menolak, sebagian responden tetap berharap dapat hidup hingga usia 100 tahun atau lebih.
Baca Juga: Studi Ungkap 5 Profesi yang Dikaitkan dengan Risiko Kanker Ovarium Lebih Tinggi
Alasan yang paling banyak dipilih adalah:
- 68,2 persen ingin menikmati hidup selama mungkin.
- 38,6 persen ingin melihat anak dan cucu tumbuh hingga dewasa.
Mayoritas Pria Ingin Meninggal Lebih Dulu daripada Pasangan
Survei juga menyoroti pandangan masyarakat Jepang mengenai pasangan hidup.
Lebih dari 60 persen pria memilih ingin meninggal lebih dulu dibanding pasangannya. Pada kelompok usia di atas 50 tahun, angkanya bahkan mendekati 80 persen.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
Sebaliknya, mayoritas perempuan berharap hidup lebih lama agar tetap dapat mendampingi pasangan hingga akhir hayat.
Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya
Alasan pria ingin meninggal lebih dulu antara lain:
- Tidak sanggup menghadapi kehilangan pasangan (58,6 persen).
Sementara alasan responden yang ingin hidup lebih lama dibanding pasangan adalah:
- Khawatir terhadap kehidupan pasangan bila ditinggalkan (53,6 persen).
- Ingin merawat pasangan hingga akhir hayat (48,1 persen).
Survei juga menemukan sekitar 30 persen responden yang tinggal sendiri tidak memiliki pendamping apabila harus menjalani perawatan di rumah sakit atau operasi.
Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang
Jepang Masih Menghadapi Krisis Demografi
Temuan tersebut muncul di tengah tantangan demografi yang semakin serius di Jepang.
Pada 2025, jumlah kelahiran hanya mencapai 671.236 bayi, turun hampir 15 ribu dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi rekor terendah selama sepuluh tahun berturut-turut.
Sementara itu, tingkat fertilitas Jepang turun menjadi 1,14 anak per perempuan, jauh di bawah angka yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan populasi.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Penurunan angka kelahiran, meningkatnya populasi lansia, serta perubahan pola pernikahan membuat pemerintah Jepang terus berupaya memperbaiki kebijakan keluarga dan pengasuhan anak.
Baca Juga: Pria 44 Tahun di Prancis Hidup Normal Meski Hasil MRI Tunjukkan Otaknya Sangat Kecil
Perdana Menteri Jepang saat itu, Fumio Kishida, bahkan menyebut rendahnya angka kelahiran sebagai ancaman besar bagi keberlangsungan masyarakat Jepang dan menegaskan bahwa kebijakan terkait anak harus menjadi prioritas nasional.
Editor : Ubaidillah