RadarBangkalan.id - Pemerintah Metropolitan Tokyo mulai melonggarkan aturan berpakaian di lingkungan kerja dengan mengizinkan pegawai mengenakan celana pendek saat bertugas. Kebijakan ini diterapkan sebagai respons terhadap cuaca musim panas yang semakin ekstrem sekaligus untuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) di tengah tingginya biaya energi.
Meski disambut positif oleh sebagian pegawai karena dinilai lebih nyaman, aturan baru tersebut juga memicu perdebatan di Jepang. Sejumlah pihak menilai celana pendek kurang sesuai dikenakan di lingkungan kerja yang formal.
Baca Juga: Prancis Setujui RUU Euthanasia, Pasien Penyakit Terminal Bisa Akhiri Hidup Secara Medis
Pegawai Akui Lebih Nyaman Bekerja
Salah satu pegawai Pemerintah Metropolitan Tokyo, Noboru Watanabe, mengaku sempat merasa canggung saat pertama kali datang ke kantor mengenakan celana pendek.
Pria berusia 50 tahun itu mengatakan dirinya tidak terbiasa memperlihatkan kaki di tempat kerja. Namun, setelah mencobanya, ia merasakan manfaat berupa kenyamanan yang lebih baik saat menghadapi cuaca panas.
Meski demikian, Watanabe tetap mengenakan kemeja formal ketika menghadiri kegiatan atau rapat yang membutuhkan penampilan resmi.
Baca Juga: Dokter Anjurkan Orang Tua Ajak Anak Bermain Sepak Bola Usai Nonton Piala Dunia, Ini Manfaatnya
Respons terhadap Panas Ekstrem dan Krisis Energi
Kebijakan ini diumumkan Gubernur Tokyo Yuriko Koike sebagai bagian dari langkah adaptasi menghadapi gelombang panas yang semakin sering terjadi.
Baca Juga: Sering Menyundul Bola Saat Bermain Sepak Bola, Apakah Bisa Merusak Otak?
Pemerintah Tokyo mendorong pegawai memakai pakaian yang lebih ringan dan nyaman, seperti:
- Kaus polo
- Kaus
- Sneakers
- Celana pendek
Pilihan busana tersebut tetap disesuaikan dengan jenis pekerjaan masing-masing pegawai.
Baca Juga: BPOM Rilis Daftar 14 Kosmetik Berbahaya 2026, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Kebijakan ini merupakan pengembangan dari program Cool Biz, kampanye penghematan energi yang diperkenalkan pada 2005 saat Yuriko Koike menjabat Menteri Lingkungan Hidup. Program tersebut sebelumnya menganjurkan pekerja melepas jas dan dasi selama musim panas agar penggunaan AC dapat dikurangi.
Menuai Pro dan Kontra
Tidak semua pekerja di Jepang menikmati kelonggaran serupa.
Takayuki Deguchi, karyawan perusahaan pemasaran berusia 30 tahun yang masih diwajibkan mengenakan setelan jas, mengaku iri terhadap kebijakan Pemerintah Tokyo.
Menurutnya, penggunaan celana pendek merupakan langkah fleksibel yang membantu pekerja menjaga suhu tubuh saat cuaca sangat panas.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kematian yang Muncul di Tangan dan Kaki, Ini Penjelasan Ahli
Namun, sebagian masyarakat berpendapat berbeda.
Sachie Koike, agen properti berusia 52 tahun, mengaku tidak keberatan jika pekerja melepas jas atau dasi saat musim panas. Namun, ia menilai celana pendek terlalu santai untuk dikenakan di kantor.
Baginya, celana pendek lebih identik dengan pakaian liburan dibandingkan busana kerja profesional.
Baca Juga: Kasus Kanker di Indonesia Diprediksi Naik 70 Persen, Kenali 7 Gejala Awal yang Tak Boleh Diabaikan
Jepang Hadapi Gelombang Panas Ekstrem
Badan Meteorologi Jepang mencatat musim panas 2025 sebagai yang terpanas sejak pencatatan modern dimulai. Suhu udara di sejumlah wilayah bahkan beberapa kali menembus 40 derajat Celsius.
Pada April lalu, badan tersebut juga memperkenalkan istilah resmi kokusho atau "panas yang menyiksa" untuk menggambarkan gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi.
Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan cuaca ekstrem berlangsung lebih lama dan lebih intens.
Baca Juga: 7 Makanan Orang Jepang yang Diyakini Bantu Panjang Umur, Ada Matcha hingga Ubi Ungu
Bagi sebagian pegawai, kebijakan berpakaian yang lebih fleksibel menjadi solusi sederhana untuk meningkatkan kenyamanan selama bekerja di tengah suhu yang terus meningkat.
Pegawai Pemerintah Tokyo lainnya, Takuya Ozawa, mengaku perjalanan pulang kerja terasa jauh lebih nyaman sejak mulai mengenakan celana pendek.
Menurutnya, perubahan kecil tersebut membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih sejuk dan nyaman.
Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal
Editor : Ubaidillah