Perbedaan Hyrox dan CrossFit, Jangan Salah Kaprah Ini Penjelasan Ahli

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/skynesher)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/skynesher)

 

RadarBangkalan.id - Hyrox menjadi perbincangan hangat setelah kompetisi kebugaran tersebut resmi digelar di Indonesia dan menarik minat ribuan peserta. Meski sama-sama memadukan latihan kekuatan dan daya tahan, Hyrox ternyata memiliki konsep yang berbeda dengan CrossFit.

Menurut ilmuwan olahraga Gommaar D'Hulst, Hyrox merupakan ajang fitness racing atau balap kebugaran dengan rangkaian lari dan latihan fungsional yang sudah ditentukan. Sebaliknya, CrossFit adalah olahraga kebugaran yang menguji berbagai kemampuan fisik melalui tantangan yang kerap berubah dan tidak dapat diprediksi.

Baca Juga: Kenali Manfaat Vitamin B Kompleks, dari Cegah Anemia hingga Jaga Fungsi Otak

"Keduanya menggunakan gerakan fungsional dengan intensitas tinggi serta memadukan kekuatan dan daya tahan. Namun, tipe atlet yang unggul di masing-masing olahraga cenderung berbeda," jelas D'Hulst, dikutip dari Men's Health.

1. Format Kompetisi

Perbedaan paling mencolok terletak pada format perlombaan.

Hyrox memiliki format yang tetap sehingga peserta sudah mengetahui seluruh rangkaian tantangan sejak awal. Kompetisi biasanya terdiri dari lari sejauh 8 kilometer yang diselingi delapan latihan fungsional, seperti sled push, sled pull, rowing, burpee broad jump, farmer's carry, sandbag lunges, wall balls, hingga ski erg.

Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Weightlifting Asal-asalan, Bisa Picu Tulang Geser (Spondylolisthesis)

Sebaliknya, CrossFit mengusung konsep the known and the unknowable. Atlet sering kali baru mengetahui jenis latihan yang harus dijalani sesaat sebelum pertandingan dimulai.

2. Sistem Energi Tubuh

Meski sama-sama membutuhkan kekuatan dan daya tahan, Hyrox dan CrossFit menggunakan sistem energi tubuh yang berbeda.

CrossFit lebih banyak mengandalkan sistem anaerob untuk aktivitas berdurasi pendek dengan intensitas sangat tinggi, seperti deadlift satu repetisi maksimal atau muscle-up.

Baca Juga: Dokter Anjurkan Orang Tua Ajak Anak Bermain Sepak Bola Usai Nonton Piala Dunia, Ini Manfaatnya

Sementara itu, Hyrox lebih menitikberatkan pada sistem aerob yang memanfaatkan oksidasi lemak dan glukosa sehingga atlet mampu mempertahankan performa dalam durasi 60 hingga 90 menit.

Menurut D'Hulst, atlet Hyrox umumnya menghasilkan kadar laktat yang lebih rendah sehingga kelelahan datang lebih lambat dibandingkan atlet CrossFit.

3. Karakteristik Atlet

Penelitian terhadap atlet elite menunjukkan adanya perbedaan karakteristik fisik.

Atlet CrossFit rata-rata memiliki tinggi badan sekitar 176 sentimeter dengan proporsi lengan dan tubuh tertentu yang menguntungkan dalam berbagai gerakan teknik.

Sebaliknya, atlet Hyrox papan atas rata-rata sekitar 5,5 sentimeter lebih tinggi. Postur tersebut dinilai memberikan keuntungan biomekanik pada tantangan seperti sled push, rowing, walking lunges, wall balls, hingga lari.

Baca Juga: Sering Menyundul Bola Saat Bermain Sepak Bola, Apakah Bisa Merusak Otak?

4. Program Latihan

Karena format Hyrox sudah pasti, atlet dapat menyusun latihan yang lebih spesifik.

Program latihan biasanya berisi kombinasi lari, latihan interval, EMOM (Every Minute on The Minute), maupun AMRAP (As Many Rounds/Reps as Possible) dengan fokus meningkatkan daya tahan.

Di sisi lain, atlet CrossFit harus berlatih lebih beragam karena tidak mengetahui tantangan yang akan dihadapi. Mereka lebih sering menjalani latihan intensitas tinggi pada zona 4 hingga 5.

Sementara atlet Hyrox lebih banyak berlatih pada zona 2 untuk meningkatkan kapasitas aerobik dan daya tahan.

Baca Juga: Tanda-Tanda Kematian yang Muncul di Tangan dan Kaki, Ini Penjelasan Ahli

5. Strategi Nutrisi

Strategi pemenuhan energi juga berbeda.

Karena lomba Hyrox berlangsung sekitar 60-90 menit, atlet sangat bergantung pada cadangan glikogen. Oleh sebab itu, konsumsi karbohidrat selama perlombaan, sekitar 60-90 gram kombinasi glukosa dan fruktosa, sering dianjurkan untuk menjaga performa.

Sebaliknya, durasi kompetisi CrossFit relatif lebih singkat sehingga atlet tidak mengonsumsi makanan selama pertandingan. Fokus nutrisi lebih diarahkan pada asupan sebelum dan sesudah latihan untuk mendukung performa serta mempercepat pemulihan.

Baca Juga: BPOM Rilis Daftar 14 Kosmetik Berbahaya 2026, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon

Mana yang Lebih Cocok?

Hyrox lebih cocok bagi mereka yang menyukai tantangan ketahanan fisik dengan format kompetisi yang terstruktur dan dapat diprediksi.

Sementara itu, CrossFit lebih sesuai bagi pencinta variasi latihan yang ingin menguji kekuatan, daya tahan, kelincahan, koordinasi, hingga kemampuan beradaptasi terhadap tantangan yang selalu berubah.

Meski memiliki karakteristik berbeda, kedua olahraga tersebut sama-sama membutuhkan persiapan fisik, teknik yang baik, strategi nutrisi, serta pemulihan yang optimal agar performa tetap maksimal dan risiko cedera dapat diminimalkan.

Baca Juga: 7 Makanan Orang Jepang yang Diyakini Bantu Panjang Umur, Ada Matcha hingga Ubi Ungu

Editor : Ubaidillah
hyrox crossfit perbedaan olahraga fitness racing Kebugaran