RadarBangkalan.id - Penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) sering berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Menurut dokter spesialis nefrologi, seseorang bahkan dapat kehilangan hingga 80 persen fungsi ginjal sebelum merasakan keluhan yang jelas.
Kondisi tersebut membuat banyak penderita baru mengetahui penyakitnya ketika kerusakan ginjal sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu, mengenali faktor risiko dan gejala yang muncul menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.
Baca Juga: Tidak Pernah Menstruasi Sejak Pubertas, Ternyata Remaja Ini Terlahir Tanpa Serviks dan Vagina
Ginjal merupakan organ vital yang setiap hari menyaring sekitar 180 liter darah untuk membuang limbah, menjaga keseimbangan cairan, mengatur elektrolit, serta membantu mengontrol tekanan darah.
Menurut Konsultan Nefrologi Rumah Sakit Apollo India, dr. Srivatsa A, ginjal memiliki kemampuan kompensasi yang sangat besar. Saat sebagian unit penyaring (nefron) mengalami kerusakan, nefron yang masih sehat akan bekerja lebih keras sehingga fungsi ginjal tetap tampak normal.
"Karena kemampuan kompensasi ini, pasien dapat kehilangan hingga 80 persen fungsi ginjal sebelum muncul tanda penyakit yang terlihat," jelas dr. Srivatsa.
Baca Juga: Kenali Manfaat Vitamin B Kompleks, dari Cegah Anemia hingga Jaga Fungsi Otak
Akibatnya, penyakit ginjal kronis sering berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun tanpa disadari.
Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Weightlifting Asal-asalan, Bisa Picu Tulang Geser (Spondylolisthesis)
9 Gejala Penyakit Ginjal yang Perlu Diwaspadai
Ketika fungsi ginjal terus menurun, limbah metabolisme mulai menumpuk di dalam darah sehingga memunculkan berbagai keluhan. Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
Baca Juga: Dokter Anjurkan Orang Tua Ajak Anak Bermain Sepak Bola Usai Nonton Piala Dunia, Ini Manfaatnya
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah
- Kelelahan yang berlangsung terus-menerus
- Nafsu makan menurun
- Mual atau muntah
- Kram otot
- Sulit berkonsentrasi atau mudah linglung
- Perubahan frekuensi maupun jumlah buang air kecil
- Kulit terasa sangat gatal
- Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan
Selain itu, penurunan produksi hormon eritropoietin akibat kerusakan ginjal juga dapat menyebabkan anemia sehingga penderita mudah lelah dan mengalami sesak napas.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kematian yang Muncul di Tangan dan Kaki, Ini Penjelasan Ahli
Mengapa Gejala Baru Muncul Saat Stadium Lanjut?
Selama ginjal masih mampu mengompensasi kerusakan, tubuh tetap dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Namun ketika cadangan fungsi tersebut habis, limbah dan cairan mulai menumpuk sehingga memicu gangguan pada berbagai organ.
Pada tahap ini, keluhan seperti mual, muntah, kehilangan nafsu makan, hingga pembengkakan biasanya mulai dirasakan pasien.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Penyebab Utama
Banyak orang mengira penyakit ginjal selalu berasal dari gangguan pada ginjal itu sendiri. Padahal, dua penyebab terbesar penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi.
Baca Juga: BPOM Rilis Daftar 14 Kosmetik Berbahaya 2026, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi sebagai penyaring. Sementara tekanan darah tinggi membuat pembuluh darah ginjal menyempit dan mengalami kerusakan secara bertahap.
Baca Juga: 10 Hewan yang Dianggap Punya Tingkat Kecerdasan Paling Rendah, Ada Koala hingga Ikan Mola-mola
Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal meliputi:
- Penyakit autoimun
- Infeksi ginjal berulang
- Penggunaan obat pereda nyeri jangka panjang tanpa pengawasan
- Kebiasaan merokok
- Obesitas
Pentingnya Deteksi Dini
Bagi orang yang memiliki diabetes, hipertensi, obesitas, atau faktor risiko lainnya, pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin sangat dianjurkan.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Dokter menyarankan pemeriksaan darah untuk mengetahui estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) serta pemeriksaan urine guna mendeteksi kebocoran protein. Pemeriksaan sederhana tersebut dapat membantu menemukan kerusakan ginjal sebelum berkembang menjadi gagal ginjal kronis yang lebih berat.
Editor : Ubaidillah