RadarBangkalan.id - Menerapkan pola asuh tanpa tuntutan untuk selalu sempurna dapat membantu anak tumbuh lebih percaya diri, berani mencoba hal baru, dan mengembangkan potensi sesuai kemampuannya. Setiap anak memiliki karakter, minat, dan cara belajar yang berbeda sehingga orang tua perlu memberikan dukungan, bukan tekanan berlebihan.
Di tengah tingginya ekspektasi terhadap prestasi akademik maupun pencapaian lainnya, orang tua kerap tanpa sadar mendorong anak untuk selalu menjadi yang terbaik. Padahal, proses tumbuh kembang anak juga membutuhkan ruang untuk bermain, bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman.
Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya
Melalui kampanye Hari Anak, Morinaga mengajak para orang tua memahami bahwa setiap anak memiliki perjalanan tumbuh yang unik. Anak tidak harus selalu menjadi yang paling unggul karena setiap individu memiliki potensi yang dapat berkembang melalui nutrisi, stimulasi, perhatian, serta lingkungan yang mendukung.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Beyond Nutrition, yang menekankan pentingnya dukungan menyeluruh bagi tumbuh kembang anak, mulai dari pemenuhan nutrisi, stimulasi yang tepat, hingga kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pengalaman baru.
Anak Tidak Harus Selalu Menjadi yang Terbaik
Keinginan orang tua memberikan masa depan terbaik merupakan hal yang wajar. Namun, ketika harapan berubah menjadi tuntutan agar anak selalu sempurna, mereka dapat kehilangan keberanian untuk mencoba dan menikmati proses belajar.
Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih
Penelitian yang dirangkum American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa ekspektasi tinggi disertai kritik dari orang tua dapat meningkatkan kecenderungan perfectionism pada anak dan remaja.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk membedakan antara memberikan motivasi dan memberikan tekanan. Dukungan yang sehat akan membantu anak berkembang sesuai potensinya tanpa merasa takut gagal.
Apresiasi Proses, Bukan Hanya Hasil
Proses belajar merupakan bagian penting dalam perkembangan anak. Ketika anak mencoba menggambar, menyusun balok, bermain musik, atau melakukan aktivitas baru, mereka sedang belajar memecahkan masalah sekaligus membangun rasa percaya diri.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Jalan Kaki untuk Jantung? Studi Ungkap Pagi hingga Malam Punya Manfaat Berbeda
Alih-alih langsung memperbaiki hasil karya anak, orang tua dapat memberikan apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan.
Kalimat sederhana seperti, "Wah, kamu sudah berusaha membuat gambar ini," dapat membuat anak merasa dihargai dan termotivasi untuk terus mencoba.
Pendekatan ini juga selaras dengan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui latihan, pengalaman, dan proses belajar yang berkelanjutan.
Baca Juga: Hotman Paris Lepas Kuasa Hukum Febrie Adriansyah karena Kondisi Kesehatan Memburuk
Bermain Membantu Tumbuh Kembang Anak
Bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Melalui permainan, anak belajar mengenal lingkungan, melatih kreativitas, meningkatkan kemampuan berpikir, serta mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.
American Academy of Pediatrics (AAP) melalui laporan The Power of Play menyebutkan bahwa bermain berperan penting dalam mendukung perkembangan bahasa, kemampuan kognitif, hubungan sosial, hingga pengendalian emosi anak.
Saat bermain, anak juga belajar mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan mencari solusi secara mandiri.
Baca Juga: Dokter Jelaskan Perbedaan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Sakit Jantung Orang Dewasa
Berikan Ruang untuk Bereksplorasi
Potensi anak tidak hanya diukur dari nilai akademik. Ada anak yang unggul di bidang seni, olahraga, komunikasi, kreativitas, maupun kemampuan bersosialisasi.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Dokter Tegaskan Main Gadget Tidak Membuat Jantung Anak Lemah
Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai aktivitas agar mereka dapat menemukan minat dan bakat yang sesuai.
Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi yang responsif antara orang tua dan anak melalui konsep serve and return berperan penting dalam membangun kemampuan sosial, emosional, dan kognitif.
Respons sederhana seperti mendengarkan cerita anak, menjawab pertanyaan mereka, atau memberikan perhatian ketika anak menunjukkan sesuatu dapat memperkuat perkembangan otaknya.
Tips Menerapkan Pola Asuh Positif
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung tumbuh kembang anak antara lain:
Baca Juga: IDAI: 1 dari 3 Remaja di Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kenali Tandanya
- Memberikan kesempatan kepada anak mencoba berbagai aktivitas sesuai minatnya.
- Menghargai proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya.
- Tidak membandingkan anak dengan teman sebaya.
- Mendengarkan cerita dan pendapat anak.
- Memberikan dukungan ketika anak mengalami kegagalan.
- Menciptakan lingkungan yang aman untuk bereksplorasi.
Kesempatan untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan tantangan juga membantu mengembangkan executive function, yaitu kemampuan mengelola emosi, mengatur perhatian, serta memecahkan masalah.
Parenting Fleksibel Ala Orang Tua Muda
Banyak orang tua muda kini mulai menerapkan pola asuh yang lebih fleksibel dengan memperhatikan kebutuhan emosional anak. Selain mendukung perkembangan kemampuan, mereka juga berupaya membangun komunikasi yang sehat agar anak merasa aman untuk bercerita dan mengekspresikan dirinya.
Baca Juga: Tidak Pernah Menstruasi Sejak Pubertas, Ternyata Remaja Ini Terlahir Tanpa Serviks dan Vagina
Meski begitu, derasnya informasi mengenai parenting terkadang membuat orang tua merasa harus memenuhi berbagai standar ideal. Padahal, setiap keluarga memiliki kondisi dan perjalanan yang berbeda.
Pola asuh yang baik bukan berarti menjadi orang tua yang sempurna, melainkan terus belajar memahami kebutuhan anak dan mendampinginya sesuai tahap perkembangan.
Baca Juga: Dokter Ungkap Risiko Weightlifting Asal-asalan, Bisa Picu Tulang Geser (Spondylolisthesis)
Nutrisi dan Stimulasi Sama Pentingnya
Selain memberikan ruang eksplorasi, pemenuhan nutrisi tetap menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui pendekatan Potensi, Atensi, dan Nutrisi, Morinaga menekankan bahwa nutrisi, stimulasi, serta perhatian orang tua saling melengkapi dalam membantu anak mengembangkan kemampuan terbaiknya.
Dengan dukungan yang seimbang, anak berpeluang tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, kreatif, mandiri, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Pada akhirnya, tugas orang tua bukan menciptakan anak yang sempurna, melainkan mendampingi mereka agar mampu mengenali, mengembangkan, dan percaya pada potensi unik yang dimilikinya.
Editor : Ubaidillah