Berat Badan Normal Belum Tentu Sehat, Kenali Bahaya Skinny Fat yang Picu Diabetes dan Penyakit Jantung

Ubaidillah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 07:38 WIB
Foto: Ilustrasi timbangan (Getty Images/iStockphoto/Andrii Zorii)
Foto: Ilustrasi timbangan (Getty Images/iStockphoto/Andrii Zorii)

 

RadarBangkalan.id - Banyak orang menganggap berat badan normal sebagai tanda tubuh sehat. Padahal, kondisi tubuh yang terlihat kurus belum tentu terbebas dari risiko penyakit. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah skinny fat, yaitu saat indeks massa tubuh (IMT) masih normal tetapi terjadi penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menjelaskan bahwa IMT hanya menggambarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan. Untuk menilai kesehatan secara lebih akurat, diperlukan pemeriksaan lain seperti pengukuran lingkar perut dan komposisi tubuh.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Telur Disebut Bikin Bisulan, Ini Penjelasan Dokter

 

"Jangan sampai kamu kurus, IMT normal, tapi lingkar perutnya ternyata besar banget. Itu nanti kita sebutnya dengan skinny fat," ujar dr Yaze.

Apa Itu Skinny Fat?

Skinny fat adalah kondisi ketika seseorang memiliki berat badan yang terlihat ideal atau normal, tetapi memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi dan massa otot yang rendah.

Kondisi ini sering kali tidak disadari karena angka timbangan dan IMT masih berada dalam rentang normal. Namun, di balik penampilan yang terlihat kurus, terdapat penumpukan lemak yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Baca Juga: BPOM Resmi Terapkan Nutri-Level Mulai 2026, Ini Arti Kode Warna A-D pada Minuman Kemasan

Lingkar Perut Jadi Indikator Penting

Menurut dr Yaze, salah satu tanda utama skinny fat adalah ukuran lingkar perut yang melebihi batas normal.

Batas lingkar perut yang perlu diwaspadai adalah:

Baca Juga: Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung

Ukuran tersebut menunjukkan adanya obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di area perut yang dapat terjadi meskipun berat badan masih tergolong normal.

Lemak Visceral Lebih Berbahaya

Lemak di area perut terdiri dari dua jenis utama, yaitu:

1. Lemak Subkutan

Lemak yang berada tepat di bawah permukaan kulit dan dapat dicubit.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian

2. Lemak Visceral

Lemak yang berada lebih dalam dan mengelilingi organ-organ penting di dalam rongga perut.

Lemak visceral dianggap lebih berbahaya karena berkaitan erat dengan gangguan metabolisme dan peradangan kronis dalam tubuh.

"Nah kalau misalnya dia kelihatannya kecil, kurus, tapi ternyata obesitas sentral itu bisa kita sebut dengan skinny fat," jelas dr Yaze.

Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah

Risiko Penyakit pada Kondisi Skinny Fat

Meski terlihat kurus, seseorang dengan kondisi skinny fat tetap memiliki risiko kesehatan yang cukup tinggi.

Penumpukan lemak visceral diketahui berhubungan dengan berbagai penyakit metabolik, antara lain:

Baca Juga: Penyebab Peradangan Kulit yang Perlu Diwaspadai, dari Alergi hingga Penyakit Autoimun

Karena itu, kesehatan tidak bisa dinilai hanya dari berat badan atau bentuk tubuh yang terlihat ramping.

Cara Mengatasi Skinny Fat

Menurut dr Yaze, fokus utama bukan sekadar menurunkan berat badan, melainkan memperbaiki komposisi tubuh dengan mengurangi lemak dan meningkatkan massa otot.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan

1. Prioritaskan Latihan Pembentukan Otot

Latihan kekuatan atau strength training menjadi salah satu metode terbaik untuk mengatasi skinny fat.

Beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan antara lain:

Latihan ini membantu meningkatkan massa otot sekaligus membakar lemak tubuh secara lebih efektif.

Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya

"Jadi aku lebih nyaranin adalah olahraga yang membangun otot. Jadi supaya yang besar adalah komposisi ototnya, bukan komposisi lemaknya," kata dr Yaze.

Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih

2. Perbaiki Pola Makan

Selain olahraga, pola makan sehat juga memegang peran penting.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan meliputi:

Dr Yaze mencontohkan bahwa kebiasaan mengonsumsi nasi goreng dapat diganti dengan nasi putih dan lauk yang lebih seimbang dari sisi gizi.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Jalan Kaki untuk Jantung? Studi Ungkap Pagi hingga Malam Punya Manfaat Berbeda

3. Lakukan Perubahan Bertahap

Perubahan pola hidup tidak harus dilakukan secara ekstrem. Mengurangi frekuensi konsumsi makanan tinggi lemak secara bertahap sudah menjadi langkah awal yang baik untuk memperbaiki komposisi tubuh.

Kesimpulan

Memiliki berat badan normal tidak selalu berarti tubuh sehat. Kondisi skinny fat dapat terjadi ketika seseorang terlihat kurus tetapi memiliki penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut.

Karena itu, selain memperhatikan berat badan dan IMT, penting untuk memantau lingkar perut serta menjaga komposisi tubuh melalui pola makan sehat dan olahraga yang fokus pada pembentukan otot. Langkah ini dapat membantu menurunkan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan berbagai gangguan metabolik lainnya.

Editor : Ubaidillah
lemak visceral obesitas sentral skinny fat bahaya skinny fat kesehatan tubuh