RadarBangkalan.id - Cegukan umumnya dianggap sebagai gangguan ringan yang akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa menit. Namun, jika cegukan berlangsung berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan terus berulang tanpa sebab yang jelas, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, termasuk gangguan neurologis.
Para ahli menjelaskan bahwa refleks cegukan tidak hanya melibatkan sistem pencernaan, tetapi juga berkaitan erat dengan saraf dan bagian tertentu di otak. Karena itu, cegukan yang berlangsung lama tidak selalu berasal dari gangguan lambung atau pola makan.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Menurut Konsultan Senior Neurologi Rumah Sakit Kauvery, Chennai, Dr. Shubha Subramanian, refleks cegukan melibatkan diafragma, saraf frenikus, saraf vagus, serta batang otak yang berperan penting dalam mengatur pernapasan dan berbagai fungsi otomatis tubuh.
Saat seseorang mengalami cegukan, pita suara menutup secara cepat sehingga menghasilkan suara khas "hik". Proses ini terjadi karena adanya rangsangan pada jalur saraf tertentu yang mengendalikan gerakan diafragma.
Dalam kondisi normal, cegukan dapat dipicu oleh makan terlalu cepat, makan berlebihan, minum minuman berkarbonasi, perubahan suhu mendadak, atau konsumsi makanan tertentu. Namun, jika cegukan berlangsung terus-menerus, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan pada sistem saraf.
Salah satu kondisi neurologis yang dapat memicu cegukan berkepanjangan adalah stroke batang otak. Area ini memiliki peran penting dalam mengatur refleks pernapasan dan aktivitas otomatis lainnya. Kerusakan pada bagian tersebut dapat mengganggu mekanisme refleks cegukan sehingga menyebabkan gejala yang menetap.
Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China
Selain stroke, gangguan demielinasi seperti multiple sclerosis dan neuromyelitis optica juga dapat memicu cegukan berkepanjangan apabila lesi atau kerusakan terjadi pada area batang otak yang terkait dengan refleks tersebut.
Tumor otak juga termasuk salah satu penyebab yang perlu diwaspadai. Meski cegukan bukan gejala khas tumor otak, keberadaan tumor pada lokasi tertentu dapat menekan atau mengganggu jalur saraf yang berperan dalam refleks cegukan.
Baca Juga: BPOM Temukan MinyaKita Berbau Solar, Masyarakat Diminta Jangan Gunakan dan Segera Lapor
Tak hanya itu, infeksi dan peradangan sistem saraf pusat seperti meningitis maupun ensefalitis juga dapat menyebabkan cegukan yang tidak kunjung hilang pada sebagian pasien.
Secara medis, cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam dikategorikan sebagai cegukan persisten. Sementara itu, cegukan yang berlangsung lebih dari satu bulan disebut sebagai cegukan intraktabel atau sulit diatasi.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup. Penderita bisa mengalami kesulitan makan, tidur, berbicara, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari karena refleks cegukan yang terus berulang.
Para ahli menyarankan agar seseorang segera memeriksakan diri ke dokter apabila cegukan berlangsung lebih dari dua hari, sering kambuh tanpa penyebab jelas, atau disertai gejala lain seperti pusing, gangguan keseimbangan, kelemahan anggota tubuh, gangguan bicara, maupun keluhan neurologis lainnya.
Baca Juga: Apakah Hantu Benar-Benar Ada? Profesor Psikologi Jelaskan dari Sudut Pandang Ilmiah
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah cegukan yang dialami hanya gangguan sementara atau menjadi tanda awal dari kondisi neurologis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Editor : Ubaidillah