Kasus Bunuh Diri di Indonesia Banyak Terjadi pada Usia Muda, Ini Faktor Pemicunya

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 06:14 WIB
Foto: Ilustrasi bunuh diri (Getty Images/MarioGuti)
Foto: Ilustrasi bunuh diri (Getty Images/MarioGuti)

 

RadarBangkalan.id - Kasus bunuh diri di Indonesia menjadi perhatian seiring munculnya tren perilaku menyakiti diri sendiri atau self-harm pada usia yang semakin muda. Data layanan konsultasi kesehatan jiwa bahkan menunjukkan anak usia sekolah dasar sudah mulai mencari pertolongan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi mengatakan data kasus bunuh diri yang dihimpun dari kepolisian masih perlu diklarifikasi karena terdapat perbedaan angka dalam proses rekapitulasi.

Baca Juga: Dokter Ungkap 7 Makanan yang Bisa Mengganggu Kesehatan Usus

 

"Jadi data kasus bunuh diri ini kan kita ngambil dari polisi. Jadi kemarin kami coba rekap ternyata masih ada selisih. Jadi saya harus klarifikasi lagi ke kepolisian apakah angka ini benar," beber Imran, Rabu (9/8/2026).

Meski angka tersebut masih perlu diklarifikasi, Imran menyebut kasus bunuh diri yang tercatat banyak terjadi pada kelompok usia muda. Kondisi ini berbeda dengan kecenderungan global, di mana prevalensi bunuh diri lebih tinggi pada kelompok lansia.

Kesepian Jadi Salah Satu Faktor Kerentanan

Imran mengatakan terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap masalah kesehatan jiwa. Salah satunya adalah loneliness atau kesepian.

"Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi kalau saya bilang wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," tuturnya.

Baca Juga: Jalan 4.000 Langkah Cepat Ternyata Bisa Setara 7.500 Langkah Pelan

Kesepian juga menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemukan pada pengguna layanan kesehatan mental. Kondisi tersebut tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja.

Anak Usia 8 Tahun Sudah Mengakses Layanan Kesehatan Jiwa

Psikolog klinis Annelia Sari Sani mengatakan layanan kesehatan mental gratis Healing 119.id kini mulai diakses anak-anak dengan usia yang sangat muda.

"Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun," katanya.

Baca Juga: Polisi Bongkar Jaringan Uang Palsu Sidoarjo-Karanganyar, 3 Tersangka Ditangkap

Menurut Annelia, salah satu keluhan yang banyak ditemukan adalah kesepian. Puncak keluhan terkait kesepian disebut terjadi pada anak usia 12-14 tahun atau masa remaja awal.

"Terutama masalahnya kesepian. Biasanya saat ditanya kamu ada sama siapa? Nggak ada. Dia sendirian," ujarnya.

Tingginya jumlah pengguna layanan membuat tenaga psikolog perlu melakukan proses triase. Konsultasi dibatasi agar tenaga profesional dapat membantu lebih banyak orang yang membutuhkan pertolongan.

Dalam satu shift selama tiga jam, sekitar 500-600 orang disebut mengakses layanan, sedangkan jumlah psikolog yang bertugas hanya sekitar lima orang.

Karena itu, waktu konsultasi dibatasi maksimal 30 menit. Kasus yang dinilai tidak termasuk krisis psikologis akan diarahkan ke layanan yang lebih sesuai.

Baca Juga: Polresta Sidoarjo Ungkap Modus WNA China Rekrut Admin Binance, Rekening Korban Dikuasai

Perempuan Lebih Banyak Mencari Bantuan

Imran juga menjelaskan adanya perbedaan antara kelompok yang mencari pertolongan melalui layanan kesehatan jiwa dan kelompok yang meninggal akibat bunuh diri.

Baca Juga: Benarkah Minum Susu Bikin Gemuk? Dokter Gizi Ungkap Faktanya

Pengakses layanan Healing 119.id disebut lebih banyak perempuan, yakni sekitar 70 persen. Namun, kasus kematian akibat bunuh diri justru lebih banyak terjadi pada laki-laki.

"Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," katanya.

Kondisi tersebut sejalan dengan kecenderungan global, di mana laki-laki memiliki risiko kematian akibat bunuh diri lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Sementara itu, peneliti Universitas Kanazawa Jepang Sandersan Onie menyoroti tren self-harm yang semakin banyak terjadi pada usia muda, terutama pada anak perempuan.

"Tren yang kita sedang lihat sebenarnya di banyak sekali negara di seluruh dunia adalah yang lakukan self-harm semakin lama semakin muda. Dan terutama kepada kaum perempuan, young girls," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dan diteliti lebih lanjut untuk melihat apakah Indonesia mengikuti tren serupa.

Dukungan Keluarga Jadi Faktor Penting

Lantas, apa yang menjadi pemicu seseorang melakukan percobaan bunuh diri?

Baca Juga: Masker Dibasahi untuk Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Paru Ungkap Risikonya

Imran mengatakan faktor dukungan keluarga atau support system menjadi salah satu persoalan utama yang ditemukan dalam kasus-kasus yang ditangani. Selain itu, persoalan pertemanan, bullying, dan masalah ekonomi juga dapat menjadi faktor yang berpengaruh.

Baca Juga: Kebakaran Gunung Buthak Malang Mulai Padam, Api Merembet ke Kawi Najang

"Pertama adalah dukungan keluarga, jadi masalah support system-nya. Kemudian dari pertemanan, bullying itu juga ada. Kemudian masalah ekonomi," jelasnya.

Menurut Imran, persoalan ekonomi ternyata bukan faktor utama yang paling sering ditemukan.

"Kalau kita pikirkan penyebab mereka mau bunuh diri itu karena ekonomi ternyata enggak. Justru malah yang keluarga. Jadi ekonomi itu alasan nomor tiga masalahnya, atau nomor dua. Jadi bukan nomor satu," sambungnya.

Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam upaya pencegahan bunuh diri, terutama karena masyarakat Indonesia memiliki karakter yang relatif komunal.

Pendapat serupa disampaikan Onie. Menurutnya, keluarga perlu menjadi sistem pendukung bagi anak dan remaja yang sedang menghadapi persoalan kesehatan jiwa.

"Kalau kita benar-benar mau mencegah bunuh diri secara serius, kita tidak bisa melupakan faktor keluarga. Terutama di negara yang komunal seperti Indonesia," katanya.

Baca Juga: Waduk Sumberkepuh Nganjuk Mengering, Warga Manfaatkan Lahannya untuk Bertani

Pentingnya Mencari Pertolongan

Depresi, self-harm, dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah persoalan sepele. Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik sehingga gejala yang semakin berat perlu mendapatkan perhatian dan penanganan profesional.

Orang yang mengalami masalah kesehatan jiwa dapat berdiskusi dengan psikolog atau psikiater maupun mendatangi fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan kesehatan jiwa.

Baca Juga: Guru di Jombang Dilaporkan Diduga Perkosa Siswi hingga 13 Kali, Korban Trauma Berat

Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga tersedia melalui Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) di laman resminya. Masyarakat dapat memanfaatkan informasi dan pemeriksaan mandiri yang tersedia untuk membantu mengenali kondisi kesehatan jiwa.

Jika seseorang berada dalam kondisi krisis atau memiliki risiko menyakiti diri, pertolongan profesional perlu dicari sesegera mungkin dan jangan dibiarkan menghadapi kondisi tersebut sendirian.

Editor : Ubaidillah
layanan kesehatan mental kesehatan jiwa depresi bunuh diri