Kenapa Diet Defisit Kalori Bisa Bikin Susah BAB? Ini Penjelasan Dokter Gizi

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 06:45 WIB
ilustrasi (Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)
ilustrasi (Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)

 

RadarBangkalan.id - Menjalani diet defisit kalori tidak cukup hanya dengan mengurangi jumlah atau porsi makanan. Komposisi makanan juga perlu diperhatikan agar kebutuhan zat gizi tetap terpenuhi. Jika terlalu banyak membatasi jenis makanan, salah satu masalah yang dapat muncul adalah sulit buang air besar (BAB).

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menjelaskan, sulit BAB saat menjalani defisit kalori dapat terjadi ketika asupan serat dan cairan tidak terpenuhi dengan baik.

Baca Juga: Ear Seeds untuk Menurunkan Berat Badan, Benarkah Bisa Kurangi Nafsu Makan?

"Defisit kalori itu tetap harus ada yang dimakan seratnya. Lemaknya lemak sehat. Karbohidrat tetap perlu juga, sama protein," kata dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (10/9/2026).

Terlalu Fokus pada Protein

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi saat menjalani diet defisit kalori adalah terlalu fokus mengonsumsi protein. Di sisi lain, sayuran dan sumber serat lainnya justru dikurangi atau bahkan dihilangkan dari menu.

"Kalau misalnya kamu defisit kalori dan yang dimakan cuma protein aja, nggak ada seratnya, biasanya terjadi sulit BAB," ujarnya.

Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata

Serat berperan dalam membantu menjaga kelancaran pencernaan. Karena itu, mengurangi terlalu banyak makanan sumber serat ketika diet dapat membuat BAB menjadi tidak lancar.

Kurang Minum Juga Bisa Bikin Susah BAB

Selain serat, asupan cairan juga perlu diperhatikan selama menjalani defisit kalori. Mengurangi jumlah makanan sebaiknya tidak diikuti dengan mengurangi konsumsi minuman secara berlebihan.

"Kalau misalnya defisit kalori terus minumnya juga jadi kurang, ya udah pasti akhirnya jadi sulit BAB juga," lanjut dr Yaze.

Baca Juga: Makan Wortel Bisa Cegah Mata Minus? Ini Penjelasan Dokter Mata

Kondisi tersebut dapat semakin mudah terjadi ketika seseorang menerapkan pola diet yang terlalu ketat.

Kesalahan Diet yang Bisa Memicu Gangguan BAB

Dr Yaze mencontohkan pola diet yang memangkas karbohidrat hingga nol, tidak mengonsumsi sayuran, kurang minum, dan hanya mengandalkan protein sebagai sumber makanan.

"Biasanya orang main defisit-defisit aja. Misalnya langsung tiba-tiba cut karbo, jadi nol sama sekali nggak ada karbonya. Terus udah nggak suka sayur, karbonya nggak ada, minumnya juga kurang, dimakan cuma protein aja. Akhirnya terjadi gangguan BAB," tutur dr Yaze.

Pola makan seperti itu dapat membuat komposisi zat gizi menjadi tidak seimbang. Padahal, meski sedang menjalani diet untuk menurunkan berat badan, tubuh tetap membutuhkan serat, protein, lemak sehat, dan karbohidrat.

Baca Juga: Mata Merah Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius, Dokter Ungkap Gejalanya

Berapa Kebutuhan Serat Saat Diet?

Kebutuhan serat tetap perlu dipenuhi meski seseorang sedang menjalani diet defisit kalori. Dalam artikel ini, kebutuhan serat sehari disebut berada di kisaran 25-30 gram.

Sayuran dan buah dapat menjadi sumber serat yang dimasukkan ke dalam menu harian. Penerapan sederhananya adalah sekitar tiga porsi sayuran dan dua porsi buah dalam sehari.

Sumber serat juga tidak harus berasal dari satu jenis makanan. Sayuran dan buah dapat dikombinasikan dengan berbagai makanan lain sesuai kebutuhan.

Baca Juga: BPOM Temukan BKO Pyrimidenafil pada 3 Obat Herbal Klaim Stamina Pria

Protein dan Karbohidrat Tetap Dibutuhkan

Protein tetap menjadi bagian penting dalam menu diet karena dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sumber protein dapat berasal dari telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging, ayam, ikan, hingga susu.

Sementara itu, karbohidrat juga tidak perlu dihilangkan sepenuhnya ketika menjalani defisit kalori. Pengurangan kalori sebaiknya tetap disertai pola makan dengan komposisi zat gizi yang lengkap.

Dengan demikian, ketika BAB mulai tidak lancar setelah menjalani diet, pola makan perlu dievaluasi kembali. Perhatikan apakah kebutuhan serat dan cairan sudah terpenuhi atau justru ada kelompok makanan yang dipangkas terlalu banyak.

Defisit kalori tetap menjadi bagian dari upaya menurunkan berat badan. Namun, menghilangkan sayuran, mengurangi cairan secara berlebihan, atau memangkas karbohidrat hingga nol dapat membuat pola makan menjadi tidak seimbang dan berkaitan dengan gangguan BAB.

Baca Juga: Kebakaran Berulang di TNBTS Diselidiki, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana

Editor : Ubaidillah
cairan tubuh defisit kalori asupan serat dokter gizi diet sehat