News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Tragis! Wanita Thailand Meninggal Usai Pijat Leher, Kenali Bahaya Pijat Leher yang Salah

Azril Arham • Rabu, 11 Desember 2024 | 00:03 WIB
Ilustrasi Jenazah Korban (Foto Dok. Detikcom)
Ilustrasi Jenazah Korban (Foto Dok. Detikcom)

RadarBangkalan.id - Seorang wanita di Thailand, Phing Chyada, meninggal dunia setelah menjalani pijat leher di sebuah salon di Provinsi Udon Thani pada November 2024.

Phing, yang bekerja sebagai penyanyi, pergi ke salon untuk pijat guna mengatasi nyeri bahu yang dialaminya.

Namun, setelah dua hari, ia merasakan nyeri yang semakin parah di bagian belakang lehernya.

Kondisi ini semakin memburuk dengan melemahnya lengan kanan Phing, dan dalam beberapa minggu, hampir setengah tubuhnya mengalami kelumpuhan.

Kasus ini baru terungkap ke publik pada 8 Desember 2024, ketika halaman Facebook Drama Addict mengunggah kabar bahwa Phing telah meninggal dunia.

Menurut unggahan di Facebook tersebut, leher merupakan area yang sangat sensitif.

Jika dipijat terlalu keras, bisa merusak pembuluh darah yang mengalir ke otak atau sumsum tulang belakang, yang dapat berakibat fatal.

Untuk itu, disarankan agar orang-orang menghindari pijat leher atau tulang belakang yang terlalu keras.

"Jika Anda merasakan sakit kepala, muntah, pusing, atau kelemahan pada tangan dan kaki setelah pijat, segera periksakan diri ke dokter," kata unggahan itu, seperti yang dikutip dari The Straits Times.

Laman Drama Addict juga mengungkapkan bahwa memutar leher bukan bagian dari teknik pijat tradisional Thailand.

Mereka pun mengimbau para terapis pijat untuk berhati-hati dan tidak melakukan gerakan semacam itu, demi menghindari cedera yang tidak diinginkan.

Ahli saraf Thailand, Dr. Thiravat Hemachudha, menjelaskan bahwa memutar leher atau memijat tulang belakang leher bisa memicu kelumpuhan.

Ia mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 177 ahli saraf di Amerika Serikat melaporkan 55 kasus kelumpuhan akibat infark serebral setelah pasien menjalani terapi penyesuaian tulang belakang leher.

Dr. Thiravat juga menceritakan tentang seorang pasien yang dirawat karena kelumpuhan setelah memutar leher tiga kali sehari.

Menurutnya, gerakan ini dapat mempengaruhi penglihatan dan keseimbangan tubuh, dengan tingkat keparahan yang bergantung pada kekuatan dan frekuensi pijatan tersebut.

Pasien dengan kondisi obesitas atau tekanan darah tinggi lebih berisiko mengalami kelumpuhan akibat stroke.

 

Penting untuk berhati-hati dan selalu memilih terapis pijat yang berlisensi serta berpengalaman.

Jangan ragu untuk mencari saran medis jika merasa tidak nyaman setelah pijat, terutama di area leher dan tulang belakang. ***

 

Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih
Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryaningsih
Editor : Azril Arham
#pijat leher #kretek abal-abal #thailand #bahaya pijat kretek