RadarBangkalan.id - Berhentinya penayangan Doraemon di televisi nasional pada awal 2026 menjadi penanda berakhirnya ritual Minggu pagi lintas generasi yang telah bertahan hampir 35 tahun.
Keputusan ini langsung memicu gelombang nostalgia dan kesedihan di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di media sosial.
Baca Juga: Tamat Setelah 35 Tahun, Doraemon Resmi Tak Lagi Tayang di TV Nasional
Setelah hampir empat dekade menemani pagi akhir pekan, anime legendaris Doraemon resmi tak lagi hadir di layar RCTI.
Stasiun televisi tersebut menayangkan Doraemon secara rutin sejak 9 Desember 1990. Bagi banyak penonton, kabar ini bukan sekadar akhir sebuah program televisi, melainkan simbol perubahan besar dalam pola konsumsi hiburan masyarakat.
Informasi berhentinya penayangan Doraemon pertama kali ramai diperbincangkan setelah diumumkan oleh akun X @IndoPopBase.
Akun X Habis Nonton Film turut menguatkan kabar tersebut dengan menyoroti panjangnya perjalanan Doraemon di Indonesia, mulai dari tayang mingguan setiap Minggu pagi hingga sempat hadir setiap hari.
Baca Juga: Eks Direktur SMA Akui Terima 7.000 Dollar AS dalam Kasus Korupsi Laptop Chromebook
Pengumuman itu langsung memancing reaksi emosional warganet. Banyak yang mengaku kehilangan tontonan ikonik masa kecil.
Bagi sebagian penonton, Doraemon telah menjadi bagian dari ritme hidup dan identik dengan suasana Minggu pagi. Galuh, salah satu penggemar di Jakarta, mengenang bagaimana serial ini selalu dinantikan sebagai penutup pekan sebelum rutinitas kembali dimulai.
Meski demikian, Galuh menilai berhentinya Doraemon di televisi bukan persoalan besar selama serial tersebut masih dapat diakses melalui platform digital.
Baca Juga: Resmi! KemenHAM Buka Lowongan 500 PPPK Tahun 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan pergeseran kebiasaan menonton masyarakat yang kini lebih memilih layanan daring dibanding televisi konvensional.
Pandangan serupa disampaikan Satrio. Ia mengenang Doraemon sebagai serial yang sarat ironi sederhana melalui karakter Nobita, yang kerap mencari solusi instan namun justru berujung masalah baru.
Bagi Satrio, kisah-kisah tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi daya tarik utama Doraemon. Ia berharap serial ini tetap hadir di platform digital agar dapat dinikmati generasi muda.
Baca Juga: Sritex Tutup Total! Ini Daftar 5 Pabrik Tekstil yang Tumbang dan Penyebabnya
Nostalgia juga dirasakan Angel, yang mengingat baling-baling bambu sebagai simbol kebahagiaan Minggu pagi.
Ia berharap Doraemon masih bisa tayang di televisi lain, setidaknya di stasiun milik negara, agar tetap menjadi tontonan akhir pekan anak-anak Indonesia.
Reaksi warganet menunjukkan betapa kuatnya ikatan publik dengan Doraemon. Banyak yang menyebut penghentian penayangan ini sebenarnya sudah terlihat sejak lama, seiring durasi siar yang terus dipangkas hingga akhirnya dihentikan sepenuhnya.
Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa menurunnya minat menonton televisi menjadi faktor utama di balik keputusan ini.
Baca Juga: NATO Terpecah? Trump Siapkan Militer AS untuk Rebut Greenland, Dunia Terkejut
Selama sekitar 35 tahun tayang di Indonesia, Doraemon berhasil melintasi batas generasi. Serial ini memperkenalkan dunia imajinatif penuh alat-alat ajaib dari abad ke-22, seperti mesin waktu, baling-baling bambu, pintu ke mana saja, hingga kantong empat dimensi.
Alat-alat tersebut bukan sekadar elemen hiburan, tetapi menjadi bagian dari imajinasi kolektif penonton yang tumbuh bersama Doraemon.
Di tengah kesedihan publik, muncul pula spekulasi mengenai masa depan Doraemon di Indonesia.
Sejumlah warganet menduga serial ini hanya berpindah rumah siar atau sepenuhnya beralih ke platform digital, seiring kabar bahwa proses dubbing versi Indonesia masih berjalan dan film terbarunya sempat tayang di stasiun televisi lain.
Baca Juga: Viral Curhat Guru ASN Pasuruan soal Jarak 57 Km, Berujung Pemecatan
Terlepas dari berbagai spekulasi, berhentinya Doraemon dari layar kaca menandai babak baru dalam sejarah penyiaran televisi Indonesia.
Serial yang selama puluhan tahun menjadi penanda Minggu pagi kini harus beradaptasi dengan perubahan zaman dan pola konsumsi hiburan masyarakat.
Baca Juga: Viral Anggota Madas Janji 10 Rumah dan Sekarung Emas untuk Nenek Elina
Editor : Ubaidillah