
RadarBangkalan.id - Menurunkan berat badan tidak harus dilakukan dengan diet ekstrem yang mengubah pola makan secara drastis. Menurut spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, kunci keberhasilan diet justru terletak pada konsistensi dan perubahan gaya hidup yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Diet yang terlalu ketat, seperti hanya mengonsumsi makanan rebusan dan sayuran atau langsung menghentikan konsumsi gula, berisiko membuat seseorang merasa tersiksa dan cepat bosan. Akibatnya, program penurunan berat badan bisa berhenti sebelum mencapai target.
"Nggak perlu diet ketat, karena kalau misalnya dalam sebulan ini 180 derajat kamu berubah, makannya cuma rebusan sama sayur doang, terus misalnya makannya jadi karbonya diganti kentang, itu pasti ngerasa tersiksa," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026).
"Nanti lama-lama akhirnya bosan atau nggak semangat buat makan," lanjut dia.
dr Yaze menjelaskan bahwa perubahan pola makan yang terlalu ekstrem dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan kebiasaan barunya. Karena itu, diet sebaiknya dilakukan secara bertahap agar lebih mudah dijalani.
Defisit Kalori Bertahap agar Diet Lebih Konsisten
Alih-alih memangkas porsi makan secara drastis, dr Yaze menyarankan untuk memulai defisit kalori ringan, yakni sekitar 300–500 kalori dari kebutuhan energi harian. Pendekatan ini dapat membantu seseorang menyesuaikan pola makan tanpa harus mengubah seluruh kebiasaannya sekaligus.



