RadarBangkalan.id - Kepolisian Resor Blitar Kota, Jawa Timur, berhasil menangkap pelaku pembunuhan dua perempuan yang bekerja di shelter anjing di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Pelaku, yang diidentifikasi sebagai AF (21) dari Desa Badal Pandean, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, ternyata memiliki motif yang tak terduga: ketidakpuasan terhadap besaran gaji yang dijanjikan oleh korban.
Kapolres Blitar Kota, AKBP Danang Setiyo, mengungkapkan bahwa pelaku mengakui perbuatannya dan menyatakan rasa sakit hati terhadap korban terkait masalah gaji. Menurut keterangan pelaku, korban telah menawarkan pekerjaan dengan imbalan gaji bulanan sebesar Rp 3.100.000. Namun, kenyataannya setelah bekerja selama satu minggu, pelaku hanya menerima Rp 1 juta sebagai gaji bulanan.
Baca Juga : 240 Ribu Jiwa Diselamatkan Polisi dengan Menangkap Tiga Pengedar 30 KG Sabu dari Jaringan Malaysia
"Pelaku ini telah bekerja selama kurang lebih satu minggu. Awalnya, dia tertarik melamar pekerjaan setelah melihat iklan yang menawarkan gaji bulanan sebesar Rp 3.100.000. Namun, setelah mulai bekerja, pelaku diberikan kontrak dengan durasi tiga bulan dan hanya diberikan gaji sebesar Rp 1 juta per bulan, ditambah bonus sebesar Rp 250 ribu yang baru bisa diambil setelah kontrak selesai," ungkap Kapolres Blitar Kota dalam konferensi pers di Mapolres Blitar Kota, seperti dilansir oleh Antara pada Kamis (4/1).
Baca Juga : Jubir Timnas AMIN Ditahan Aparat Kejaksaan Jakarta Timur
Kekecewaan pelaku terhadap besaran gaji yang jauh dari janji semula diduga menjadi pemicu tindakan keji tersebut. Meskipun demikian, tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku tetap dianggap sebagai tindakan yang sadis dan tidak dapat dibenarkan. Kepolisian kini tengah menyelidiki lebih lanjut mengenai motif serta proses hukum yang akan diterapkan terhadap pelaku pembunuhan tersebut.
Baca Juga : Wow, Hampir 5jt! Besaran UMK 2024 di Surabaya dan Malang Baru Diteken Gubernur Khofifah Indar Parawansa
Penting untuk mencatat bahwa tindakan kekerasan seperti ini tidak bisa diterima dalam masyarakat. Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya transparansi dan kejujuran dalam proses perekrutan pekerjaan, agar tidak menimbulkan ketidakpuasan dan potensi konflik yang dapat berujung pada kejadian tragis seperti ini.