RadarBangkalan.id - Carok yang mengerikan di Desa Bumi Anyar Bangkalan, Madura, yang melibatkan Hasan Tanjung, telah menjadi sorotan publik.
Meskipun banyak yang membela Hasan, ada sosok yang menyebut almarhum Mat Tanjar sebagai pemicu utama terjadinya carok maut tersebut.
Herri Pras, pendiri perguruan pencak silat Garuda Indonesia, mengungkapkan pandangannya terhadap peristiwa tragis ini.
Menurutnya, keangkuhan Mat Tanjar menjadi pemicu Hasan Tanjung melakukan serangan menggunakan senjata celuritnya.
Mat Tanjar awalnya menampar Hasan dan menantangnya untuk berduel carok. Percekcokan di antara keduanya dipicu oleh salah paham, di mana Mat Tanjar diduga melihat mata Hasan yang melotot.
Hasan, sebaliknya, menyatakan bahwa matanya melotot karena terkena sorot lampu motor Mat Tanjar saat hendak bertegur sapa.
Herri Pras menilai Mat Tanjar sebagai sosok yang bersalah dalam kasus ini.
"Ketika ditegur, mereka marah, ketika mereka marah cekcok, dan setelah cekcok, mereka melakukan pemukulan. Jadi di sini yang sebenarnya salah adalah mereka, si preman ini. Saya menyebutkan Mat Tanjar dan Mat Terdam ini sebagai preman," ujar Herri.
"Premannya di situ dan juga disegani karena punya ilmu bela diri dan punya ilmu kebal, akhirnya apa pun meskipun kebal mati, na'uzubillah min zalik," tambahnya.
Meskipun Herri menegaskan keberatan terhadap perilaku Mat Tanjar, dia juga menyoroti bahwa tindakan Hasan yang menewaskan empat korban, termasuk Mat Tanjar, Mat Terdam, Najehri, dan Hafid, adalah pelanggaran hukum yang tidak dapat dibenarkan.
Kasus carok massal ini semakin menyoroti kompleksitas hubungan sosial di Bangkalan, di mana ego dan ketidakpahaman dapat berujung pada tragedi mengerikan.
Dengan meningkatnya kekhawatiran terkait keamanan dan ketertiban, masyarakat Bangkalan diingatkan untuk mencari solusi damai dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. ***
Editor : Azril Arham