News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Jelang Pilgub 2024: Mengapa Rasa Kedekatan Emosional Menjadi Kunci Pilihan di Jatim

Azril Arham • Rabu, 25 September 2024 | 04:59 WIB
Dari kiri, Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Hakim, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak, dan Tri Rismaharini-Zahrul-Azhar Asumta.
Dari kiri, Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Hakim, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak, dan Tri Rismaharini-Zahrul-Azhar Asumta.

RadarBangkalan.id - Menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2024, ada tren menarik yang diungkapkan oleh Wawan Sobari, seorang pengamat politik dari Universitas Brawijaya.

Ia mencatat bahwa pemilih di Jatim cenderung lebih mengutamakan aspek emosional ketimbang latar belakang profesional calon yang ada.

Meskipun ketiga pasangan calon yang bertarung memiliki pengalaman dan kemampuan yang cukup kuat, Wawan menekankan bahwa perasaan atau kedekatan emosional lebih berperan dalam pengambilan keputusan pemilih.

"Pemilih di Jawa Timur, seperti di banyak daerah lain, lebih memilih berdasarkan rasa kedekatan emosional. Rekam jejak profesional para calon memang penting, tetapi bukan faktor utama," ungkap Wawan dilansir dari detikJatim pada Selasa, 24 September 2024.

Wawan juga menjelaskan bahwa hanya sekitar 10 hingga 15 persen pemilih yang menjadikan latar belakang profesional sebagai alasan utama memilih calon gubernur.

Sebagian besar pemilih lebih dipengaruhi oleh hubungan emosional yang terjalin antara kandidat dan masyarakat.

"Rekam jejak profesional itu memang penting, tetapi yang lebih menentukan adalah bagaimana calon dapat meraih hati dan empati publik," tambahnya.

Keterhubungan emosional ini bisa muncul dari banyak hal, seperti kesederhanaan calon, cara mereka berkomunikasi, serta kepedulian terhadap isu-isu sehari-hari yang dihadapi masyarakat.

Calon yang dinilai 'dekat' dengan rakyat memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan luas.

Wawan mengangkat contoh Khofifah Indar Parawansa, yang meskipun pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, tidak bisa mengandalkan pengalaman semata untuk meraih suara.

Elektabilitas Khofifah yang tinggi saat ini, menurutnya, bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga berkat hubungan emosional yang telah ia bangun dengan masyarakat selama bertahun-tahun.

"Khofifah memang punya pengalaman yang baik, tapi jika hanya mengandalkan itu, belum tentu dia bisa menang lagi.

Yang lebih penting adalah bagaimana calon bisa menyentuh hati pemilih," jelasnya.

Selain itu, Wawan menekankan pentingnya para calon gubernur membangun citra yang bersih, bebas dari korupsi dan nepotisme.

Isu ini sangat sensitif di kalangan pemilih, dan integritas serta kesederhanaan menjadi nilai tambah yang dapat menarik simpati masyarakat.

Walaupun profesionalisme tetap penting, faktor emosional menjadi penentu utama di Jatim.

Para pesaing Khofifah, seperti Tri Rismaharini dan Luluk-Lukman, diharapkan mampu menawarkan lebih dari sekadar visi dan misi berbasis program kerja.

Mereka perlu menunjukkan sisi kemanusiaan dan kepedulian yang nyata agar bisa merebut hati pemilih.

Dengan pemilihan gubernur yang semakin dekat, kandidat diharapkan tidak hanya mengandalkan program unggulan atau pengalaman mereka, tetapi juga harus berupaya membangun ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat.

Menyentuh hati pemilih bisa jadi kunci sukses dalam meraih dukungan di Pilgub Jatim 2024 ini. ***

SATU TUJUAN: Komisioner KPU Sumenep bergandengan tangan dengan dua paslon, Bawaslu, TNI, dan Polri saat deklarasi kampanye damai dan doa bersama untuk kesuksesan Pilkada Serentak 2024 di halaman KPU.
SATU TUJUAN: Komisioner KPU Sumenep bergandengan tangan dengan dua paslon, Bawaslu, TNI, dan Polri saat deklarasi kampanye damai dan doa bersama untuk kesuksesan Pilkada Serentak 2024 di halaman KPU.
Editor : Azril Arham
#pilgub #jatim #Pemilihan Gubernur Jawa Timur pada 2024 #pemilihan gubernur jawa timur #pilgub jatim