RadarBangkalan.id – Puluhan aktivis dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan menggelar unjuk rasa di depan Mapolres Bangkalan.
Aksi demonstrasi ini merupakan bentuk protes terhadap kinerja Polres Bangkalan yang dinilai lamban dalam menangani kasus-kasus kriminal, khususnya pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan pembegalan.
Unjuk rasa yang mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian itu berlangsung ricuh. Bentrokan antara massa aksi dan petugas tidak terhindarkan setelah terjadi aksi saling dorong.
Akibatnya, tiga orang mahasiswa dilaporkan pingsan dan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Operasi Ranmor, Penegakan Hukum Atau Ancaman Ketakutan?
Ketua Umum HMI Cabang Bangkalan, Kresna Bayu, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap kinerja aparat kepolisian yang dianggap tidak serius dalam mengusut kasus-kasus kriminal di Bangkalan.
Ia menyoroti sejumlah kasus curanmor dan begal yang hingga kini belum juga terungkap, bahkan ada yang terjadi sejak tahun 2022.
“Kami menuntut kepolisian agar lebih serius dan transparan dalam menangani kasus-kasus kriminal. Masyarakat sudah sangat resah,” tegas Kresna.
Menurut Kresna, tingginya angka kriminalitas di Bangkalan akhir-akhir ini membuat masyarakat merasa tidak aman.
Ia menuding pihak kepolisian gagal dalam menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan masyarakat.
Ia juga menilai patroli yang dilakukan aparat hanya sebatas formalitas, karena tidak ada hasil nyata dari kegiatan tersebut.
Baca Juga: Warga Bentrok Bawa Sajam di Puskesmas Geger, Ini Pemicunya!
“Biasanya mereka hanya berpatroli, foto-foto, lalu pulang. Ini tidak menyelesaikan masalah,” imbuhnya.
Kresna juga menyayangkan tindakan aparat kepolisian yang dinilainya berlebihan dalam merespons aksi damai tersebut.
Ia menyebut, kericuhan terjadi akibat tindakan represif yang dilakukan aparat, hingga menyebabkan tiga anggotanya mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Ia mendesak agar Kapolres Bangkalan bertanggung jawab atas insiden tersebut dan meminta agar Kapolres secara langsung menemui keluarga korban untuk menyampaikan permintaan maaf.
“Kami minta Kapolres tidak hanya bertanggung jawab, tapi juga datang menemui keluarga korban,” ujarnya.
Kapolres Bangkalan, AKBP Hendro Sukmono, menyatakan bahwa pihaknya menerima aspirasi dari massa HMI dan berkomitmen untuk menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan.
Ia mengklaim bahwa kepolisian terus berupaya menekan angka kriminalitas di wilayah hukum Bangkalan.
Baca Juga: Pembuat Patung Biawak Wonosobo Raih Sertifikat Hak Cipta
“Kami apresiasi atas masukan dari mahasiswa. Kami akan tanggapi semua tuntutan mereka dengan serius,” ungkap Hendro.
Terkait insiden kericuhan dalam demo tersebut, Hendro menegaskan bahwa aparat telah bertindak sesuai prosedur. Menurutnya, kekacauan terjadi karena massa mencoba menerobos blokade polisi dan memaksa masuk ke area Mapolres.
“Kami tadi juga sudah melakukan upaya perdamaian terkait kejadian di Kecamatan Geger. Namun, saat massa aksi memaksa masuk, itu menjadi tanggung jawab kami untuk menjaga keamanan,” jelasnya. ***
Editor : Agus Sulaiman