News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Produksi Garam di Bangkalan Terancam Anjlok, Kemarau Basah Jadi Biang Keladi

Mohammad Sugianto • Rabu, 21 Mei 2025 | 17:15 WIB
Hasil produksi garam tahun ini diprediksi akan turun seiring musim kemarau basah yang terjadi saat ini
Hasil produksi garam tahun ini diprediksi akan turun seiring musim kemarau basah yang terjadi saat ini

BANGKALAN – Awan kelabu menyelimuti harapan petambak garam di Bangkalan tahun ini. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Kabupaten Bangkalan memprediksi produksi garam 2025 bakal merosot drastis. Penyebab utamanya adalah kondisi cuaca yang tak bersahabat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan bahwa Indonesia akan menghadapi fenomena kemarau basah selama beberapa bulan ke depan. Fenomena ini ditandai dengan curah hujan yang tetap tinggi meski sudah memasuki musim kemarau.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap proses produksi garam, yang sangat bergantung pada panas matahari untuk mengkristalkan air laut.

Jika pola cuaca ini berlangsung sampai Agustus, dampaknya bisa signifikan. Penurunan produktivitas garam bisa mencapai empat kali lipat dibanding musim normal,” ungkap Edy Wiyono, Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda DP2KP Bangkalan, Selasa (20/5).

Baca Juga: Inilah Bimo Wijayanto, Sosok yang diproyeksikan Akan Diproyeksikan Pimpin Dirjen Pajak, Setelah dipanggil Prabowo Subianto

Edy mengungkapkan, situasi serupa pernah terjadi pada 2021. Saat itu, kemarau basah menyebabkan hasil produksi anjlok dan kualitas garam menurun drastis.

Saat ini, sejumlah petambak mulai melakukan persiapan di lahan-lahan mereka. Namun, mayoritas belum memulai produksi garam. Menurut Edy, produksi diperkirakan baru bisa berjalan pada awal Juli, dengan catatan cuaca mulai stabil.

Kalau sampai hujan terus berlanjut hingga akhir Mei, produksi tidak bisa dimulai lebih awal,” ucap pria berkacamata itu.

Tahun ini, DP2KP Bangkalan menargetkan produksi garam sebesar 5.000 ton. Namun, Edy mengaku pesimistis target tersebut bisa tercapai.

Jangankan produktivitas, kualitas garam pun bisa sangat terpengaruh. Kalau sinar matahari kurang dan kelembaban tinggi, kristal garam yang dihasilkan tidak optimal,” tambahnya.

Baca Juga: Harga Dinilai Cukup Stabil, Petani Bangkalan Mulai Lirik Tembakau

Harga Garam Bisa Melonjak

Di tengah ancaman penurunan produksi, peluang kenaikan harga garam juga mulai terbuka. Hukum pasar berlaku: saat pasokan menipis, harga akan naik. Saat stok melimpah, harga justru anjlok.

Harga normal garam berkisar Rp 800 ribu per ton. Kalau turun di bawah itu, petani bisa tekor,” tegas Edy.

Situasi ini membuat petambak garam berada dalam posisi sulit. Mereka harus berjudi dengan cuaca yang tidak menentu, sementara biaya operasional tetap berjalan. DP2KP mengimbau para petambak untuk lebih berhati-hati dalam menentukan waktu produksi agar tak merugi terlalu dalam.


Editor : Mohammad Sugianto
#garam madura #petani garam #garam #menteri kelautan