News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

TP PKK Jatim Dorong Pembuatan PMT Lokal untuk Cegah Stunting

Ina Herdiyana • Sabtu, 29 November 2025 | 22:53 WIB
DEKAT: Ketua TP PKK Jatim, Arumi Bachsin, mencoba hasil olahan PMT lokal Pamekasan, di Pendopo Ronggosukowati, Jumat (28/11). 
DEKAT: Ketua TP PKK Jatim, Arumi Bachsin, mencoba hasil olahan PMT lokal Pamekasan, di Pendopo Ronggosukowati, Jumat (28/11). 

PAMEKASAN – Pemberian makanan tambahan (PMT) lokal menjadi salah satu strategi utama untuk mencegah dan mengatasi stunting pada balita dan ibu hamil.

Program ini bertujuan meningkatkan status gizi masyarakat dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di daerah masing-masing.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Timur, Arumi Bachsin, mengeklaim, stunting tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor ekonomi.

Bukan semata-mata karena keluarga tidak mampu mengakses makanan bergizi. Tapi juga dipengaruhi oleh pola asuh dan pengetahuan gizi yang belum optimal.

"Faktor ekonomi ada, akan tetapi tidak hanya itu. Ternyata faktor ketidak tahuan dan ketidak pahaman menjadi pemicu dari stunting," kata Arumi saat menghadiri acara peningkatan kapasitas Kader PKK dalam pembuatan PMT lokal Bakorwil Pamekasan di Pendopo Ronggosukowati, kemarin.

Istri Wakil Gubernur (Wagub) Jatim itu menyatakan, pada dasarnya makanan bergizi sangat mudah diakses di Indonesia.

Makanan dengan harga murah pun tetap memiliki kandungan gizi. Misalnya seperti ikan lele yang lebih terjangkau daripada ikan kakap. Tapi, tetap bernutrisi, bahkan ikan kembung mengandung omega tiga lebih tinggi dibanding salmon.

"Karena memberi makan kenyang anak saja tidak cukup. Harus seimbang, harus ada protein, terutama protein hewani. Karena itu, kami sangat mengapresiasi Pokja 4 TP PKK Provinsi Jatim menginiasi peningkatan kapasitas Kader PKK dalam pembuatan PMT lokal," ucapnya.

Arumi mengeklaim, angka stunting di Jatim masih lumayan bagus berada di angka 14 persen. Selain karena wilayahnya yang luas dan populasinya sekitar 41 juta, tahun-tahun sebelumnya sempat stagnan di atas 20 persen.

Namun, angka tersebut masih cukup banyak. Sebab, satu anak saja terdampak, maka hal itu tidak sedang baik-baik saja.

"Kasihan anak tersebut tidak mendapatkan kesempatan tumbuh dan berkembang yang sesuai dengan potensinya. Kalau kita lihat di wilayah Madura, khususnya di tiga kabupaten, yaitu Pamekasan masih di angka 22,3 persen, Sampang 18,9 persen, Bangkalan 17,7 persen. Sementara 2045 targetnya 5 persenan, makanya kerja kerasnya dari sekarang," tegasnya.

Baca Juga: Pemkab Sumenep Launching Sikeris untuk Permudah Pelayanan Kependudukan

Ketua Pokja 4 TP PKK Provinsi Jawa Timur, Widy Andiani, mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut para peserta secara langsung diberi pengetahuan tentang gizi dan pembuatan serta pengolahan PMT berbasis lokal yang sesuai dengan ketentuan anak balita.

Dengan demikian, ilmu tersebut dapat diterapkan saat melakukan pendampingan di wilayahnya masing-masing.

"Peserta merupakan pengurus TP PKK dari empat kabupaten yang ada di Madura. Harapan kami, nanti ada peningkatan kapasitas dan peran aktif Kader PKK dalam mendampingi keluarga berisiko stunting. Salah satunya melalui pemanfaatan PMT berbasis pangan lokal di masing-masing daerah," pungkasnya. (lil/yan)

Editor : Ina Herdiyana
#PMT #TP PKK Jatim #pemberian makanan tambahan #cegah stunting #Pembuatan