News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Mengenang Perintah Syaikhona Kholil, Ribuan Orang Antusias Iringi Pengantaran Tongkat dan Tasbih dalam Napak Tilas Pendirian NU

Ina Herdiyana • Senin, 5 Januari 2026 | 11:43 WIB
ANTUSIAS: Ratusan warga hadir dalam napak tilas isyaroh pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan, Sabtu (3/1). 
ANTUSIAS: Ratusan warga hadir dalam napak tilas isyaroh pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan, Sabtu (3/1). 

RadarBangkalan.id – Warga dari berbagai daerah di Jawa Timur (Jatim) berbondong-bondong mendatangi Pesarean Syaikhona Muhammad Kholil di Martajasah, Bangkalan, Sabtu (3/1).

Mereka hadir untuk berpartisipasi dalam acara Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU).

Peserta tiba secara individu dan berkelompok. Mereka mendaftar sebagai peserta mulai pukul 14.00 hingga 20.00.

Acara kemudian berlanjut dengan pembacaan tahlil dan ratib untuk Syaikhona Muhammad Kholil.

Pada Minggu (4/1), peserta napak tilas pindah ke Ponpes Syaichona Muhammad Cholil.

Pengasuh Ponpes Syaichona Muhammad Cholil KH Fahruddin Aschal menyerahkan tasbih dan tongkat kepada Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo KH. Ach. Azaim Ibrahimy.

Napak tilas itu menceritakan perintah Syaikhona Muhammad Kholil kepada KH As’ad Syamsul Arifin untuk membawa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari.

Kedua benda tersebut menjadi simbol penting bagi berdirinya jam’iyah NU.

Ribuan peserta berjalan kaki menuju Pelabuhan Kamal untuk menyeberang ke Pelabuhan Perak.

Sekitar pukul 13.00-14.00, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pasarean Sunan Ampel untuk melaksanakan salat dan tahlil bersama.

Setelah itu, peserta napak tilas meneruskan perjalanan ke Stasiun Gubeng dengan tujuan akhir Stasiun Jombang.

Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Awal 2026, Jalan Pemuda Sampang Terendam Banjir

Kemudian, mereka berjalan kaki ke Ponpes Tebuireng, Jombang. Di sana, peserta mengadakan tahlil dan doa bersama di Makam KH Hasyim Asy'ari, diikuti dengan penyerahan tongkat dan tasbih yang dibawa dari Bangkalan.

Cicit Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan KH Imam Buchori menjelaskan bahwa peserta napak tilas isyaroh pendirian NU dibatasi hingga seribu orang.

Mereka mengiringi KH. Azaim berjalan kaki ke Pelabuhan Kamal. Selanjutnya, mereka menyeberang menggunakan kapal nelayan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Para peserta dibatasi hanya seribu orang yang mengikuti KH Azaim berjalan kaki menuju Pelabuhan Kamal," tuturnya.

Kiai Imam menambahkan, selama perjalanan ke Kamal, peserta melantunkan kalimat "Ya Jabbar Ya Qohhar" sebagaimana yang dibaca KH As’ad Syamsul Arifin saat diperintah mengantarkan tongkat dan tasbih oleh Syaikhona Muhammad Kholil.

"Setelah dari Ampel, rombongan melanjutkan perjalanan ke kantor PCNU Bubutan, Surabaya, sebagai kantor pertama NU pada masa itu," jelasnya.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa napak tilas isyaroh pendirian NU ini merupakan kesempatan untuk memperoleh berkah dari peristiwa suci tersebut.

Bagi anggota NU, kegiatan tersebut menjadi pengingat akan semangat jam’iyah Nahdlatul Ulama.

"Ini menjadi momen untuk mengenang semangat NU yang harus kita pelihara selamanya," katanya.

Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu menambahkan, napak tilas pendirian NU diharapkan membuat organisasi masyarakat (ormas) keagamaan terbesar di Indonesia itu semakin kukuh dan tangguh.

"Semoga napak tilas ini menjadi energi bagi kita semua, khususnya jam’iyah NU," tutupnya. (za/bil)

Editor : Ina Herdiyana
#Isyaroh Pendirian NU #pengantaran tongkat #antusias #tasbih #napak tilas