Radarbangkalan.id - Siapa yang tidak tahu Toko Oen? Kalau belum tahu, sayang sekali! Restoran es krim legendaris ini pertama kali dibuka pada tahun 1922 oleh pengusaha Tionghoa keturunan Belanda, Nyonya Liem Goe Nio.
Uniknya, cabang pertama Toko Oen justru dibuka di Yogyakarta, sebelum merambah ke Jakarta, Semarang, dan Malang.
Sayangnya, cabang di Jakarta dan Yogyakarta telah tutup, dan hanya Toko Oen di Semarang yang masih asli dimiliki oleh keturunan Liem Goe Nio.
Sementara itu, Toko Oen di Malang pada tahun 1990 dijual kepada seorang pengusaha bernama Danny Mugianto.
Meski demikian, Toko Oen Malang tetap menjadi destinasi kuliner wajib jika berkunjung ke kota ini. Begitu memasuki bangunan, nuansa kolonial jadul langsung terasa.
Spanduk putih bertuliskan bahasa Belanda menyambut para pengunjung: “Selamat datang di Malang, Toko Oen yang sejak tahun 1930 telah memberikan kenyamanan bagi para tamu.” Di dalam,
empat kursi rotan pendek berwarna biru langit dan putih gading mengelilingi meja-meja bulat. Foto-foto kota Malang tempo dulu yang terpajang di dinding semakin menghidupkan suasana masa lalu, sehingga tak heran banyak wisatawan asing yang singgah ke sini.
Sebagai restoran legendaris, Toko Oen menyajikan kuliner khas Belanda yang lengkap. Di bagian depan terdapat berbagai jenis roti dan kue kering khas Belanda seperti speculaas, havermout, dan kaastengel.
Kue basah khas Indonesia juga ditawarkan di etalase yang sama untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Menu Toko Oen tidak hanya menawarkan es krim, tetapi juga beragam hidangan seperti makanan pembuka, sup, masakan oriental, burger, sandwich, salad, steak, dan masakan khas Indonesia.
Nasi goreng dan nasi semur lidah mereka kabarnya terkenal lezat. Namun, karena perut kami sudah terisi sebelumnya, kami hanya memesan satu menu es krim untuk dinikmati bersama.
Jika bingung dengan berbagai varian es krim, menu di halaman belakang daftar bisa membantu. Beberapa makanan mungkin tidak halal, jadi pastikan untuk menanyakan kepada pramusaji.
Sambil menunggu es krim datang, saya keluar sebentar untuk mengambil foto Gereja Hati Kudus Yesus, yang berada tepat di seberang Toko Oen.
Gereja ini, juga dikenal sebagai Gereja Kayutangan, dibangun pada tahun 1905 dan lebih tua dari Gereja Katedral Ijen. Arsiteknya, Hulswit, mendesain gereja ini dalam gaya neogotik yang populer di Eropa pada abad ke-19.
Akhirnya, es krim Oen’s Special yang kami pesan datang. Disajikan dalam mangkuk kaca bening berkaki, es krim ini terdiri dari tiga scoop dengan rasa berbeda,
dihias wafer batang, wafer rol, whipped cream, dan potongan buah ceri di atasnya. Es krim jadul ini memiliki tekstur yang sedikit kasar, berbeda dengan es krim modern yang lebih lembut. Rasanya pun tidak terlalu manis, jadi tidak membuat enek.