BANGKALAN, Radarbangkalan.id – Upaya meningkatkan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) di wilayah kerja Puskesmas Blega akhirnya membuahkan hasil. Melalui inovasi Sugar Dedi Mau Disun (Sehat Bugar dengan Deteksi Dini Masyarakat Usia Produktif dari Dusun ke Dusun), capaian skrining yang sebelumnya hanya 45 persen pada 2022 kini melonjak drastis menjadi 99 persen.
Inovasi ini mulai dijalankan pada awal 2023. Langkah tersebut ditempuh karena pelaksanaan Posbindu PTM di desa-desa belum mampu mengejar target sasaran 100 persen. Posbindu yang seharusnya menjadi garda terdepan deteksi dini PTM justru terhambat berbagai kendala.
Masyarakat belum memahami pentingnya pemeriksaan PTM, jadwal Posbindu kerap tidak rutin, sarana-prasarana belum memadai karena beberapa desa tidak mendapat dukungan Dana Desa, hingga lokasi Posbindu yang cukup jauh bagi sebagian warga. Alhasil, cakupan pemeriksaan usia produktif stagnan.
Untuk memecah kebuntuan itu, Puskesmas Blega mengambil langkah berbeda: bukan menunggu warga datang, tetapi petugas yang turun langsung dari dusun ke dusun.
Melalui Sugar Dedi Mau Disun, tim kesehatan mendatangi seluruh dusun di setiap desa, sekaligus menggencarkan penyuluhan, membangun komunikasi dengan aparat desa agar kegiatan Posbindu mendapat dukungan anggaran, serta menyepakati jadwal rutin bulanan bersama masyarakat.
Program tersebut kini berjalan di 19 desa dan 106 dusun sejak Mei 2023 hingga sekarang. Hasilnya langsung terasa. Dari total sasaran skrining usia produktif sebanyak 33.989 jiwa, tercatat 33.649 jiwa sudah diperiksa. Angka ini setara dengan 99 persen, atau naik 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Puskesmas Blega, drg. Saftitri, menegaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan untuk mempermudah masyarakat mendapatkan layanan kesehatan.
“Kami tidak menunggu masyarakat datang. Kami yang menjemput mereka dari dusun ke dusun. Dengan cara ini, deteksi dini PTM menjadi lebih merata dan lebih mudah dijangkau,” ujar Saftitri.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi desa dalam menjaga keberlanjutan program.
“Dukungan aparatur desa sangat penting, terutama untuk sarana Posbindu. Ketika semua pihak terlibat, hasilnya langsung terlihat,” tambahnya.
Puskesmas Blega optimistis bahwa Sugar Dedi Mau Disun akan terus menjadi motor penggerak skrining PTM di wilayahnya. Deteksi dini di usia produktif dinilai krusial untuk menekan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Dengan capaian 99 persen, Blega kini menjadi salah satu wilayah dengan skrining usia produktif tertinggi di Bangkalan.(gik)
Editor : Mohammad Sugianto