RadarBangkalan.id - Stroke selama ini sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kondisi tersebut kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
Ketika aliran darah ke otak terganggu, sel-sel otak dapat mulai mati hanya dalam hitungan menit akibat kekurangan oksigen. Dampaknya bisa berupa gangguan bicara, kelumpuhan, hilangnya kemampuan bergerak, hingga kecacatan permanen.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Usai 18 Tahun Pakai UV Nail Lamp, Ini Kata Dokter
Dokter spesialis bedah saraf, Sunil Kutty, menegaskan bahwa kecepatan mengenali gejala dan mendapatkan pertolongan medis menjadi faktor yang sangat menentukan.
"Pengenalan dan tindakan yang cepat dapat membuat perbedaan besar dalam mencegah kecacatan atau kematian akibat stroke," ujarnya.
Baca Juga: Kenapa Pelari Sering Kebelet BAB Saat Race? Ini Penjelasan Dokter Olahraga
Gangguan Tidur yang Sering Diabaikan Bisa Tingkatkan Risiko Stroke
Banyak anak muda tidak menyadari bahwa mereka memiliki faktor risiko stroke yang tersembunyi. Salah satu yang paling sering luput dari perhatian adalah gangguan tidur, khususnya Obstructive Sleep Apnea (OSA).
OSA merupakan kondisi ketika pernapasan seseorang berhenti sementara secara berulang saat tidur. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk stroke.
Gejala yang sering muncul antara lain:
Baca Juga: Jangan Asal Simpan! Ini Cara Mengawetkan Daging Kurban yang Benar
- Mendengkur keras saat tidur
- Mengantuk berlebihan pada siang hari
- Terbangun dengan rasa lelah
- Napas terhenti sesaat saat tidur
- Sakit kepala saat bangun pagi
Para ahli memperingatkan bahwa OSA yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko stroke berulang pada pasien yang pernah mengalaminya.
Bahkan, risiko kekambuhan stroke disebut dapat mencapai 50 persen dalam dua tahun apabila gangguan tidur tersebut tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Mengapa Sleep Apnea Berbahaya?
Gangguan napas saat tidur menyebabkan kadar oksigen dalam darah turun berulang kali sepanjang malam. Akibatnya, tubuh mengalami stres kronis yang dapat memicu:
Baca Juga: Main HP sampai Larut Malam Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Stroke
- Tekanan darah tinggi
- Peradangan pembuluh darah
- Gangguan irama jantung
- Kerusakan pembuluh darah otak
Kondisi inilah yang membuat sleep apnea dianggap sebagai salah satu faktor risiko tersembunyi untuk stroke dan penyakit kardiovaskular.
Kenali Gejala Stroke dengan Metode BE FAST
Karena stroke dapat terjadi secara mendadak, masyarakat dianjurkan memahami metode BE FAST untuk mengenali tanda-tanda awalnya.
B (Balance)
Kehilangan keseimbangan atau koordinasi tubuh secara tiba-tiba.
E (Eyes)
Penglihatan kabur, ganda, atau mendadak sulit melihat.
F (Face)
Salah satu sisi wajah tampak turun atau terkulai.
A (Arms)
Lengan atau tungkai mendadak lemah dan sulit digerakkan.
S (Speech)
Bicara pelo, cadel, atau kesulitan menyusun kata.
T (Time)
Segera cari pertolongan medis jika gejala muncul karena setiap menit sangat berharga.
Stroke Adalah Kondisi Darurat Medis
Para ahli menekankan bahwa stroke bukan kondisi yang bisa ditunggu hingga gejala membaik dengan sendirinya.
Baca Juga: Kisah Aubrey Hasley, Usia 22 Tahun Alami Stroke Diawali Telinga Berdenging
Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk mengurangi kerusakan otak dan mencegah kecacatan permanen.
Karena itu, gejala seperti mendengkur berat, kantuk berlebihan di siang hari, hingga tanda-tanda stroke yang muncul mendadak tidak boleh dianggap sepele, terutama pada usia muda.
Editor : Ubaidillah