RadarBangkalan.id - Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak didiagnosis mengalami intoleransi laktosa. Tidak sedikit yang kemudian langsung menghentikan seluruh konsumsi susu karena takut gejala yang muncul akan semakin parah.
Padahal, menurut dokter spesialis gizi klinik dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, intoleransi laktosa tidak selalu berarti anak harus berhenti mengonsumsi susu atau produk olahan susu sepenuhnya.
Baca Juga: Apakah Nutrisi Susu Hilang Setelah Dipanaskan? Profesor IPB Beri Penjelasan
Dalam talkshow bersama Frisian Flag pada Jumat (29/5/2026), dr Diana menjelaskan bahwa sebagian besar penderita intoleransi laktosa masih dapat mengonsumsi susu dalam jumlah tertentu sesuai kemampuan tubuh masing-masing.
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu dan produk turunannya.
Baca Juga: Tak Bisa BAB Meski Makan 7 Pepaya, Wanita Ini Alami Sembelit Parah Selama 23 Tahun
Kondisi ini terjadi karena produksi enzim laktase yang bertugas memecah laktosa di dalam saluran pencernaan berkurang atau tidak mencukupi.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan setelah mengonsumsi susu, seperti:
- Perut kembung
- Nyeri atau kram perut
- Diare
- Mual
- Banyak gas di perut
Baca Juga: Viral Influencer Minum 11 Suplemen Sekaligus, Amankah bagi Kesehatan? Ini Kata Ahli
Meski demikian, tingkat toleransi setiap individu berbeda-beda.
Baca Juga: BGN Ungkap Penyebab Ribuan Dapur MBG Disuspend, dari Dugaan Mark Up hingga Kasus Keracunan
Tidak Harus Menghentikan Susu Sepenuhnya
Menurut dr Diana, salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi adalah anggapan bahwa intoleransi laktosa mengharuskan seseorang menghindari susu secara total.
Padahal, banyak anak masih dapat mengonsumsi produk susu dalam porsi tertentu tanpa mengalami keluhan yang berarti.
Karena itu, orang tua disarankan untuk mengenali batas toleransi anak dan menyesuaikan jumlah konsumsi susu agar tetap aman dan nyaman.
Baca Juga: Kenkulus Viral Disebut Balita Genius, Ini Menu Makanan Favorit yang Dikonsumsi Sejak Kecil
Atur Porsi dan Frekuensi Konsumsi
Dr Diana menjelaskan bahwa gejala intoleransi laktosa sering kali dipengaruhi oleh jumlah dan frekuensi konsumsi produk susu.
Jika gejala muncul, solusi yang bisa dilakukan bukan langsung menghentikan konsumsi susu, melainkan mengurangi porsinya atau mengatur frekuensinya agar tidak terlalu sering.
Dengan cara tersebut, anak tetap berpeluang mendapatkan manfaat nutrisi dari susu tanpa memicu keluhan yang berlebihan.
Baca Juga: Orang Indonesia Dinilai Terlalu Banyak Konsumsi Karbohidrat, Asupan Protein Sering Terlupakan
Pendekatan bertahap juga membantu orang tua mengetahui seberapa besar toleransi tubuh anak terhadap laktosa.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Diduga Akibat Manicure UV, Dokter Bagikan Tips Aman
Ada Banyak Alternatif Sumber Nutrisi
Bagi anak yang memiliki intoleransi laktosa, orang tua tidak perlu terlalu khawatir mengenai pemenuhan kebutuhan gizi harian.
Saat ini tersedia berbagai pilihan produk rendah laktosa maupun bebas laktosa yang dapat menjadi alternatif.
Selain itu, kebutuhan nutrisi juga dapat dipenuhi melalui pola makan yang beragam dan seimbang, termasuk dari sumber protein hewani, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan makanan bergizi lainnya.
Pastikan Nutrisi Anak Tetap Terpenuhi
Menurut dr Diana, fokus utama bukan hanya pada susu, melainkan memastikan seluruh kebutuhan zat gizi anak tetap terpenuhi setiap hari.
Baca Juga: Kenapa Pelari Sering Mules Sebelum Race? Dokter Ungkap Penyebabnya
Asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang cukup sangat penting untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, serta kesehatan anak secara keseluruhan.
Karena itu, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi apabila anak menunjukkan gejala intoleransi laktosa agar pola makan yang diterapkan tetap sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Editor : Ubaidillah