News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Sering Tambah Keju ke Makanan? Ini Dampaknya bagi Berat Badan dan Kesehatan

Ubaidillah • Minggu, 14 Juni 2026 | 07:24 WIB
Jagung susu keju (Jasuke). Foto: Getty Images/Fotografer Garuda
Jagung susu keju (Jasuke). Foto: Getty Images/Fotografer Garuda

 

RadarBangkalan.id - Bagi banyak orang, tambahan keju mampu membuat hampir semua makanan terasa lebih nikmat. Rasa gurih dan teksturnya yang creamy membuat keju sering dijadikan pelengkap berbagai menu, mulai dari mi instan, burger, pizza, hingga kentang goreng.

Namun, di balik cita rasanya yang menarik, keju tetap memiliki kandungan kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diperhatikan. Terutama jika keju ditambahkan ke makanan yang sejak awal sudah tinggi kalori dan garam.

Bukan berarti keju harus dihindari sepenuhnya. Dengan porsi dan kombinasi makanan yang tepat, keju tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.

Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya

Tambahan Keju Bisa Membuat Asupan Kalori Bertambah

Keju merupakan sumber protein, kalsium, fosfor, dan vitamin B12. Namun, menambahkan keju ke makanan berarti juga menambah jumlah energi yang masuk ke tubuh.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition Reviews oleh Barbara J. Rolls, makanan dengan kepadatan energi tinggi dapat membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum merasa kenyang.

Jika kebiasaan menambahkan keju dilakukan terus-menerus, terutama pada makanan tinggi kalori seperti burger, kentang goreng, atau makanan cepat saji lainnya, total asupan energi harian dapat meningkat dan berpotensi berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya

Keju Bisa Menambah Lemak Jenuh dan Natrium

Selain kalori, kandungan lain yang perlu diperhatikan dari keju adalah lemak jenuh dan natrium.

Ketika keju dikombinasikan dengan makanan ultra-proses yang sudah mengandung banyak garam dan lemak, jumlah asupan kedua zat tersebut bisa semakin tinggi.

Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan

World Health Organization merekomendasikan pembatasan konsumsi lemak jenuh agar tidak melebihi 10 persen dari total energi harian. WHO juga menganjurkan pembatasan natrium untuk membantu mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan stroke.

Pola makan tinggi lemak jenuh dan natrium dalam jangka panjang dapat berhubungan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL atau kolesterol "jahat" serta tekanan darah pada sebagian orang.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah keju yang dimakan, tetapi juga makanan yang menjadi pasangannya.

Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan

Keju Tetap Bisa Sehat Jika Dikombinasikan dengan Serat

Cara terbaik menikmati keju adalah mengombinasikannya dengan makanan yang memiliki kandungan serat tinggi.

Beberapa pilihan kombinasi yang lebih seimbang antara lain:

Kombinasi tersebut membuat tubuh tidak hanya mendapatkan protein dan kalsium dari keju, tetapi juga memperoleh serat, vitamin, mineral, serta senyawa alami dari sayuran dan buah.

Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda

Menurut publikasi di jurnal The Lancet pada 2019, konsumsi serat yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal.

Salah satu alasannya, serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama dan membantu mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi.

Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru

Berapa Banyak Keju yang Sebaiknya Dikonsumsi?

Keju tetap boleh dikonsumsi selama porsinya diperhatikan. Sebagai gambaran, satu porsi keju umumnya sekitar 30 gram atau setara satu potong kecil keju keras seperti cheddar.

Menambahkan keju ke makanan sesekali, seperti pada burger atau mi instan, tidak langsung menyebabkan gangguan kesehatan. Masalah biasanya muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari tanpa memperhatikan keseimbangan pola makan.

Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes

Konsep gizi modern tidak hanya melihat satu jenis makanan sebagai penyebab sehat atau tidak sehat. Dampak kesehatan lebih banyak ditentukan oleh keseluruhan pola makan sehari-hari.

Dengan porsi yang tepat dan dipadukan dengan makanan kaya serat, keju tetap bisa menjadi pilihan makanan yang memberikan rasa sekaligus manfaat gizi.

Editor : Ubaidillah
#kolom gizi #manfaat dan bahaya keju #efek sering makan keju #keju #nutrisi