News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Penelitian Ungkap Diet Antiinflamasi Berpotensi Lindungi Otak dari Demensia

Ubaidillah • Jumat, 10 Juli 2026 | 06:30 WIB
Foto: ilustrasi/thinkstock
Foto: ilustrasi/thinkstock

 

RadarBangkalan.id - Pola makan yang kaya makanan antiinflamasi berpotensi membantu menurunkan risiko demensia pada lansia. Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan dengan tingkat peradangan rendah dapat melindungi kesehatan otak, bahkan pada orang yang memiliki risiko biologis lebih tinggi terhadap penyakit Alzheimer.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open menemukan bahwa peserta dengan pola makan antiinflamasi memiliki risiko demensia lebih rendah hingga 29 persen pada kelompok dengan biomarker Alzheimer tertentu. Hasil ini memperkuat pentingnya pola makan sehat sebagai salah satu upaya menjaga fungsi kognitif di usia lanjut.

Baca Juga: Studi Ungkap 5 Profesi yang Dikaitkan dengan Risiko Kanker Ovarium Lebih Tinggi

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.800 orang berusia 60 tahun ke atas di Swedia yang tidak mengalami demensia saat penelitian dimulai.

Selama enam tahun, para peneliti mengevaluasi pola makan peserta menggunakan kuesioner rinci. Selain itu, mereka juga mengukur tiga biomarker dalam darah yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan kerusakan otak.

Seluruh peserta kemudian dipantau hingga 15 tahun untuk mengetahui siapa yang mengalami demensia.

Baca Juga: Tak Perlu Menahan Lapar, Ini 5 Makanan Diet yang Membantu Menurunkan Berat Badan

Risiko Demensia Turun hingga 29 Persen

Selama masa pemantauan, sebanyak 240 peserta didiagnosis mengalami demensia.

Baca Juga: Dokter Gizi Ungkap Cara Diet Sehat di Warteg, Tak Perlu Salad atau Quinoa Mahal

Analisis menunjukkan bahwa peserta dengan pola makan yang memiliki potensi inflamasi lebih rendah cenderung memiliki risiko lebih kecil terkena demensia.

Baca Juga: Sakit Ginjal atau Nyeri Punggung? Kenali 3 Perbedaan Utamanya agar Tak Salah Diagnosis

Pada kelompok yang memiliki kadar biomarker Alzheimer p-tau217 lebih tinggi, kepatuhan terhadap pola makan antiinflamasi dikaitkan dengan penurunan risiko demensia hingga 29 persen.

Manfaat serupa juga ditemukan pada peserta dengan biomarker lain yang berhubungan dengan cedera sel saraf dan proses peradangan.

Gaya Hidup Masih Bisa Mengurangi Risiko

Dokter spesialis kegawatdaruratan sekaligus profesor klinis di George Washington University, Dr. Leana Wen, mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor gaya hidup tetap memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak.

Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah

Menurutnya, meski usia dan faktor genetik tidak dapat diubah, seseorang masih dapat menurunkan risiko penyakit melalui pilihan gaya hidup yang lebih sehat.

Apa Itu Pola Makan Antiinflamasi?

Dr. Wen menjelaskan bahwa tidak ada satu jenis diet resmi yang disebut sebagai diet antiinflamasi.

Istilah tersebut merujuk pada pola makan yang mampu membantu menekan peradangan kronis di dalam tubuh.

Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang

Dalam penelitian ini, peneliti menghitung Dietary Inflammatory Index (DII) berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi peserta.

Pola makan dengan potensi inflamasi rendah umumnya meliputi:

Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang

Sebaliknya, konsumsi makanan berikut dianjurkan untuk dibatasi:

Menurut Dr. Wen, pola makan tersebut memiliki banyak kesamaan dengan diet Mediterania yang juga menekankan konsumsi ikan, minyak zaitun, buah, sayur, dan lemak sehat.

Baca Juga: Benarkah Tidak Pemanasan Jadi Penyebab Cedera Olahraga? Ini Penjelasan Dokter

Mengapa Peradangan Berbahaya bagi Otak?

Peradangan merupakan respons alami tubuh saat melawan infeksi atau memperbaiki jaringan yang rusak.

Namun, peradangan ringan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang diduga dapat mempercepat proses penuaan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Peradangan kronis dapat merusak pembuluh darah, mencederai sel saraf, serta mengaktifkan sel imun di otak yang akhirnya berkontribusi terhadap penurunan fungsi kognitif.

Baca Juga: Dada Terasa Terbakar Jangan Diabaikan, Ini 10 Penyebab Mulai dari GERD hingga Serangan Jantung

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa demensia merupakan penyakit yang kompleks. Selain pola makan, faktor genetik, penyakit pembuluh darah, gangguan pendengaran, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol berlebihan juga berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia.

Editor : Ubaidillah
#pikun dini #pola makan antiinflamasi #pikun #berat badan #demensia