RadarBangkalan.id - Hari pertama masuk sekolah menjadi momen yang dinanti jutaan siswa di Indonesia. Namun, di balik semangat memulai tahun ajaran baru, dokter mata mengingatkan orang tua untuk mewaspadai meningkatnya risiko miopia atau mata minus pada anak akibat tingginya aktivitas melihat jarak dekat dan penggunaan gawai.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengatakan pola belajar anak saat ini membuat mereka semakin sedikit memiliki waktu bermain di luar ruangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat perkembangan mata minus sejak usia dini.
Baca Juga: BPOM Rilis Daftar 14 Kosmetik Berbahaya 2026, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Menurut dr. Julie, beban sekolah yang semakin padat membuat anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca, belajar, dan menatap layar gawai. Setelah pulang sekolah, tidak sedikit anak yang masih mengikuti les sehingga waktu beraktivitas di luar ruangan semakin berkurang.
"Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," ujarnya di Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Baca Juga: 10 Hewan yang Dianggap Punya Tingkat Kecerdasan Paling Rendah, Ada Koala hingga Ikan Mola-mola
Kenali Fase Pre-Miopia pada Anak
Secara normal, anak usia 6 hingga 7 tahun masih memiliki cadangan rabun dekat (hiperopia) sekitar +1 hingga +1,5 dioptri yang berfungsi melindungi mata dari perkembangan miopia.
Namun, apabila cadangan tersebut berkurang lebih cepat, anak dapat memasuki fase pre-miopia. Pada tahap ini, mata memang belum mengalami minus, tetapi struktur bola mata sudah menunjukkan tanda-tanda kuat akan berkembang menjadi miopia progresif.
Baca Juga: Kasus Kanker di Indonesia Diprediksi Naik 70 Persen, Kenali 7 Gejala Awal yang Tak Boleh Diabaikan
Anak yang memiliki orang tua bermata minus dan jarang melakukan aktivitas di luar ruangan disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi tersebut.
Baca Juga: 7 Makanan Orang Jepang yang Diyakini Bantu Panjang Umur, Ada Matcha hingga Ubi Ungu
Mengapa Aktivitas di Luar Ruangan Penting?
Paparan cahaya matahari alami dan aktivitas fisik di luar rumah dinilai membantu memperlambat pertumbuhan bola mata yang menjadi penyebab utama miopia.
Sebaliknya, aktivitas melihat jarak dekat dalam waktu lama, seperti membaca atau menggunakan gawai tanpa jeda, dapat meningkatkan risiko perkembangan mata minus.
Karena itu, fase awal sekolah menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin agar tanda-tanda pre-miopia dapat dideteksi lebih dini.
Baca Juga: Studi Ungkap 5 Profesi yang Dikaitkan dengan Risiko Kanker Ovarium Lebih Tinggi
Risiko Jika Tidak Ditangani
Dr. Julie mengingatkan bahwa miopia yang terus berkembang tanpa pengendalian dapat berubah menjadi high myopia (minus tinggi) hingga pathologic myopia (miopia patologis).
Kondisi tersebut berisiko menimbulkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
- Atrofi retina.
- Myopic maculopathy.
- Neuropati optik.
- Gangguan penglihatan permanen.
"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," tegas dr. Julie.
Baca Juga: Tak Perlu Menahan Lapar, Ini 5 Makanan Diet yang Membantu Menurunkan Berat Badan
Tips Mencegah Mata Minus Bertambah
Dokter menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan mata anak, yaitu:
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
- Membatasi screen time sesuai usia anak.
- Memberikan waktu bermain di luar ruangan setiap hari.
- Mengistirahatkan mata secara berkala saat belajar atau menggunakan gawai.
- Melakukan pemeriksaan mata rutin, terutama jika ada riwayat mata minus dalam keluarga.