RadarBangkalan.id - Meskipun telah muncul sebagai salah satu figur Calon Wakil Presiden yang cukup diperhitungkan dalam Pemilihan Presiden 2024 bersama Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka masih tersorot isu tentang kualitasnya bicara ekonomi dan bisnis.
Gibran Rakabuming Raka masih harus menghadapi sorotan tajam dan keraguan dari berbagai pihak terkait kemampuannya dalam merancang dan menjalankan kebijakan ekonomi denga dasar bisnis yang dia jalani selalu gagal.
Putra dari Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabung Raka ini, yang sebelumnya telah mengemban jabatan sebagai Wali Kota Solo, mendapati dirinya tengah diterpa keraguan serius dari masyarakat terkait kemampuan ekonomi dan jejak bisnis yang dipenuhi liku dan tuduhan terkait pencucian uang.
Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI), Fernando Ersento Maraden Sitorus, dengan tegas menilai bahwa Gibran belum mampu menunjukkan kapabilitas yang memadai dalam mengembangkan bisnis.
Data yang tersaji menunjukkan bahwa banyak gerai usaha milik Gibran yang harus ditutup, menimbulkan keraguan luas akan kemampuannya dalam mengelola dunia bisnis secara komprehensif.
Fernando berpendapat bahwa kegagalan bisnis Gibran menjadi dasar yang kuat untuk meragukan kemampuannya dalam menghadapi tantangan ekonomi yang lebih kompleks.
"Kegagalan menjadi pengusaha menunjukkan ketidakmampuan untuk memberikan solusi ekonomi yang mumpuni, apalagi untuk mendongkrak ekonomi nasional," ujar Fernando dengan nada kritis.
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan ekonomi Gibran tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga bersumber dari kalangan akademisi.
Ubedillah Badrun, seorang akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebelumnya melaporkan dua anak Presiden Jokowi, termasuk Gibran, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Laporan ini membawa dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melekat pada nama Gibran.
Sebagai seorang pengusaha, Gibran mencoba peruntungannya di berbagai sektor, termasuk kuliner dan usaha rintisan atau start-up.
Baca Juga: Perkara Dugaan Korupsi BLT DD Baruh Sampang Disidangkan, Keterangan BASS Janggal
Namun, perjalanan bisnisnya yang dimulai sejak usia 23 tahun tidak selalu berjalan mulus, terutama di tengah pandemi tahun 2020.
Beberapa bisnisnya, seperti Siapmas, Goola, Ternakopi, dan Madhang, akhirnya harus mengakhiri perjalanannya. Sementara itu, bisnis lainnya, seperti Chili Pari, Markobar, Mangkokku, dan Tugas Negara Bos, masih bertahan dan terus beroperasi.
Tantangan besar muncul ketika perjalanan bisnis Gibran yang penuh liku menjadi sorotan dan menciptakan keraguan di kalangan masyarakat.
Fokus pada kegagalan bisnisnya dianggap sebagai indikator kurangnya ketrampilan Gibran dalam mengelola sumber daya ekonomi secara lebih luas.
Masyarakat pun mulai meragukan apakah seorang Gibran Rakabuming Raka, yang belum sepenuhnya sukses sebagai pengusaha, mampu memberikan perubahan yang signifikan dalam perekonomian nasional.
Pertanyaan kritis pun muncul: Apakah visi dan misi Gibran untuk kemajuan ekonomi dapat diwujudkan, ataukah ini hanyalah retorika politik belaka?
Apakah sosok yang belum sepenuhnya sukses dalam dunia bisnis dapat menjadi pemimpin yang mampu merumuskan kebijakan ekonomi yang berdampak positif bagi masyarakat?
Tidak hanya itu, keraguan terhadap Gibran juga merambah ke isu hukum yang melingkupi namanya.
Pelaporan ke KPK terkait dugaan tindak pidana pencucian uang memberikan beban tambahan pada citra politiknya yang tengah dibangun.
Bagaimana hal ini akan mempengaruhi elektabilitas Gibran dan potensi keterpilihannya sebagai Wakil Presiden?
Semua pertanyaan dan keraguan ini bukan sekadar retorika biasa, melainkan merupakan titik berat dalam diskusi masyarakat menjelang Pemilihan Presiden 2024.
Dalam situasi di mana masyarakat dihadapkan pada pilihan antara melihat potensi perubahan yang dijanjikan oleh Gibran atau mempertanyakan rekam jejaknya yang penuh kontroversi, harapan dan keraguan pun saling berbaur.
Inilah dinamika politik yang semakin kompleks, menjelang pesta demokrasi mendatang.***