News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Gibran Rakabuming Raka: Membongkar 5 Fakta Gagalnya Bisnis dan Keraguan Terhadap Kapabilitas Ekonominya

Raditya Mubdi • Kamis, 7 Desember 2023 | 01:46 WIB
Foto Gibran Rakabuming Raka(jawapos)
Foto Gibran Rakabuming Raka(jawapos)

RadarBangkalan.id - Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu figur yang mendapat perhatian sebagai Calon Wakil Presiden bersama Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024 karena gagalnya bisnis dan keraguan masyarakat terkait kualitas ekonomi dia.

Gibran Rakabuming Raka tidak luput dari sorotan tajam dan keraguan masyarakat terkait kemampuannya dalam merancang dan menjalankan kebijakan ekonomi dengan dasar bisnis yang bangkrut.

Putra dari Presiden Joko Widodo ini, Gibran Rakabuming Raka yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Solo, kini dihadapkan pada keraguan serius dari berbagai pihak terkait jejak bisnis dan kualitas ekonomi yang dipenuhi liku dan dugaan terkait pencucian uang.

Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI), Fernando Ersento Maraden Sitorus, dengan tegas mengkritisi bahwa Gibran belum berhasil menunjukkan kapabilitas yang memadai dalam mengembangkan bisnisnya.

Data menunjukkan banyaknya gerai usaha milik Gibran yang harus ditutup, menciptakan keraguan luas akan kemampuannya dalam mengelola dunia bisnis secara komprehensif.

Fernando menyebut kegagalan bisnis Gibran sebagai dasar yang kuat untuk meragukan kemampuannya dalam menghadapi tantangan ekonomi yang lebih kompleks.

"Kegagalan menjadi pengusaha menunjukkan ketidakmampuan untuk memberikan solusi ekonomi yang mumpuni, apalagi untuk mendongkrak ekonomi nasional," ujar Fernando dengan nada kritis.

Ketidakpercayaan terhadap kemampuan ekonomi Gibran bukan hanya berasal dari masyarakat umum, melainkan juga diperoleh dari kalangan akademisi.

Ubedillah Badrun, seorang akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebelumnya melaporkan dua anak Presiden Jokowi, termasuk Gibran, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Laporan ini membawa dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menempel pada nama Gibran.

Sebagai seorang pengusaha, Gibran telah mencoba peruntungannya di berbagai sektor, mulai dari kuliner hingga usaha rintisan atau start-up.

Baca Juga: Fakta Pahit Dunia Pendidikan di Indonesia: Tertinggal dan Berbagai Tantangan

Namun, perjalanan bisnisnya yang dimulai sejak usia 23 tahun tidak selalu berjalan mulus, terutama di tengah pandemi tahun 2020. Berikut adalah lima fakta yang menggambarkan kegagalan bisnis Gibran:

1. Siapmas:
Bisnis katering Siapmas yang dijalankan oleh Gibran tidak mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan di industri kuliner.

Bisnis ini harus ditutup, memberikan gambaran bahwa kepiawaiannya dalam bisnis kuliner tidak mencapai tingkat kesuksesan yang diharapkan.

2. Goola:
Goola, usaha minuman yang pernah dijalankan oleh Gibran, juga harus menyerah di tengah persaingan yang ketat.

Keberhasilan Goola terbukti sulit diwujudkan, dan bisnis ini menjadi salah satu yang mengalami kegagalan.

3. Ternakopi:
Bisnis kafe Ternakopi yang dihadirkan oleh Gibran juga tidak berhasil mempertahankan eksistensinya.

Kafe ini harus ditutup, menunjukkan bahwa keberhasilan dalam bidang kuliner masih menjadi tantangan yang belum teratasi.

4. Madhang:
Madhang, bisnis lain yang ditekuni oleh Gibran, juga harus menyerah di tengah pandemi. Gagalnya bisnis kuliner ini menambah deretan kegagalan usaha yang menjadi sorotan tajam.

Baca Juga: Pembangunan Pasar Kolpajung Pamekasan Tersendat, Rekanan Terkesan Tutup

5. Pertahanan Bisnis Lainnya:
Meskipun beberapa bisnis Gibran mengalami kegagalan, seperti yang disebutkan di atas, beberapa yang lain masih bertahan.

Chili Pari, Markobar, Mangkokku, dan Tugas Negara Bos masih terus beroperasi, meskipun tetap dihadapkan pada keraguan seiring dengan kritik terhadap kapabilitas ekonomi Gibran.

Perjalanan bisnis yang penuh tantangan ini menciptakan keraguan di kalangan masyarakat terkait kemampuan Gibran dalam merancang strategi ekonomi yang efektif.

Dalam konteks politik, kegagalan bisnisnya dianggap sebagai cerminan kurangnya ketrampilan Gibran dalam mengelola sumber daya ekonomi secara lebih luas.

Dengan fakta-fakta ini, muncul pertanyaan kritis: apakah seorang Gibran Rakabuming Raka, yang belum sepenuhnya sukses sebagai pengusaha, benar-benar mampu membawa perubahan signifikan dalam perekonomian nasional?

Apakah visi dan misinya untuk kemajuan ekonomi dapat diwujudkan, ataukah ini hanyalah retorika politik semata?

Tidak hanya itu, keraguan terhadap Gibran juga merambah ke isu hukum yang melingkupi namanya.

Pelaporan ke KPK terkait dugaan tindak pidana pencucian uang memberikan beban tambahan pada citra politiknya yang tengah dibangun. Bagaimana hal ini akan mempengaruhi elektabilitas Gibran dan potensi keterpilihannya sebagai Wakil Presiden?

Semua pertanyaan dan keraguan ini bukan sekadar retorika biasa, melainkan merupakan titik berat dalam diskusi masyarakat menjelang Pemilihan Presiden 2024.

Dalam situasi di mana masyarakat dihadapkan pada pilihan antara melihat potensi perubahan yang dijanjikan oleh Gibran atau mempertanyakan rekam jejaknya yang penuh kontroversi, harapan dan keraguan pun saling berbaur.

Inilah dinamika politik yang semakin kompleks, menjelang pesta demokrasi mendatang.***

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Raditya Mubdi
#gibran rakabuming raka #bisnis #ekonomi