RadarBangkalan.id - Calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo, yakin bahwa program Satu Desa Satu Faskes Satu Nakes memiliki potensi besar untuk dioptimalisasi guna menurunkan angka stunting di Indonesia.
Pada pertemuan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok tani, dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada Kamis (18/1), Ganjar menyampaikan keyakinannya ini.
Dalam kesempatan tersebut, seorang kader posyandu bernama Warsini memberikan informasi tentang upaya pencegahan stunting.
Ganjar meresponsnya dengan sosialisasi mengenai program Ganjar-Mahfud. Beliau menekankan bahwa langkah pertama untuk mencegah stunting adalah dengan tidak menikah terlalu muda atau terlalu tua.
Ganjar juga menyarankan agar pasangan suami istri melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin, termasuk kunjungan ke posyandu.
"Saat menikah dan hamil, pemeriksaan kandungan wajib dilakukan. Oleh karena itu, setiap desa harus memiliki fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) agar pemeriksaan dapat dilakukan dengan bantuan kader posyandu," ungkap Ganjar.
Program Satu Desa Satu Faskes Satu Nakes dianggap sangat penting dalam konteks ini, karena dapat memastikan bahwa setiap ibu hamil mendapatkan pemantauan dan pendampingan langsung oleh tenaga kesehatan.
Dengan demikian, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih optimal.
"Ketika seorang ibu hamil, perhatian terhadap gizinya menjadi kunci utama dalam mencegah stunting. Jika bayi lahir dengan kondisi sehat, pemberian ASI eksklusif dapat menjadi langkah selanjutnya," tambah Ganjar dengan tekad.
Dengan menguatkan program Satu Desa Satu Faskes Satu Nakes, diharapkan bahwa masyarakat Indonesia dapat lebih efektif dalam menjalankan upaya pencegahan stunting.
Langkah-langkah ini mencakup pemantauan kesehatan sejak awal kehamilan hingga masa menyusui, sehingga kesejahteraan anak-anak Indonesia dapat ditingkatkan melalui pemenuhan gizi yang optimal. ***