News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Terus Melonjak, Tim Satgas Pangan Polri Ungkap Harga Beras Akan Terus Naik dan Alami Kelangkaan

Ajiv Ibrohim • Selasa, 27 Februari 2024 | 21:14 WIB
Sejumlah warga yang tidak mendapatkan kupon tetap antre untuk mendapatkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kantor Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (20/2/2024).
Sejumlah warga yang tidak mendapatkan kupon tetap antre untuk mendapatkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kantor Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (20/2/2024).

Radarbangkalan.id – Menurutnya, harga beras masih bertahan pada level yang tinggi, sementara stoknya belum merata.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa terjadi kenaikan harga dan persediaan beras di ritel modern cenderung minim dibandingkan dengan pasar tradisional.

Satgas Pangan Polri, Brigjen Pol Helfi Assegaf menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah kecenderungan pengusaha beras untuk memasok ke pasar tradisional.

Menurutnya, produsen beras lebih memilih untuk memasok beras premium ke pasar tradisional karena di sana harga lebih kompetitif.

Hal ini disampaikan dalam rakor pengendalian inflasi daerah bersama Kemendagri di Jakarta pada tanggal 26 Februari.

Meskipun stok beras medium dan premium untuk Kantor Wilayah Bulog masih mencukupi, namun kemampuan dalam melakukan pengemasan terbatas.

Hanya sekitar 8.000 bungkus 5 kg per hari yang dapat dikemas, yang berdampak pada proses distribusi.

Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani telah mencapai kisaran Rp 8.000–Rp 8.500 per kg, sedangkan biaya operasional (pengemasan, produksi, dan pengiriman) berkisar antara Rp 7.000–Rp 9.500 per kg.

Hal ini menyebabkan harga beras premium di tingkat konsumen mencapai kisaran Rp 16.000–Rp 18.000 per kg, bahkan harga beras medium sudah mendekati harga beras premium, yaitu Rp 15.000–Rp 16.000 per kg.

Baca Juga : Kominfo Akan Terus Pantau Terhadap Perkembangan Tata Kelola AI Global

Untuk mengatasi permasalahan ini, Satgas Pangan bersama dengan kementerian/lembaga terkait mendorong pelaku usaha untuk mengalihkan pasokan beras premium ke ritel modern.

Selain itu, Satgas Pangan juga berupaya menertibkan elemen produksi yang menjadi penyebab kenaikan biaya produksi guna menurunkan harga penjualan GKP oleh petani.

Baca Juga : Pendiri HAI, R. Haidar Alwi Beri Tanggapan Bahwa Hak Angket Tanpa Dasar Yang Kuat Bisa Picu Kerusuhan

Tidak hanya itu, pemerintah daerah dan petugas penegak hukum perlu memberikan sosialisasi kepada pelaku usaha pangan mengenai aturan harga eceran tertinggi (HET) dan menegakkan hukum bagi pelanggar.

Perum Bulog juga diimbau untuk mempercepat proses pengemasan dan pendistribusian beras agar dapat diterima secara cepat oleh ritel modern, tradisional, dan masyarakat umum.

Hal ini sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, yang pada gilirannya akan berdampak pada penurunan harga beras medium.

Baca Juga : Program Makan Siang Gratis Masuk ke APBN 2025, Mahfud MD Menanggapi Bahwa Tidak Tepat

Deputi III Kepala Staf Kepresidenan, Edy Priyono, juga menyoroti masalah ketersediaan beras di pasar ritel modern.

Dia mencatat bahwa beras premium seringkali kosong di banyak minimarket, dan penyaluran ke minimarket belum optimal, yang mengakibatkan antrean panjang di pasar murah yang menjual beras sesuai HET.

Ditemukan juga bahwa beras dengan label Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual di atas HET, terutama oleh pedagang eceran tanpa perjanjian dengan Bulog.

Edy mengimbau agar impor beras oleh Perum Bulog direalisasikan dengan lebih cepat sebelum musim panen raya tiba, dan memastikan kesiapan Kantor Wilayah Bulog.

Dengan demikian, distribusi beras SPHP dapat dilakukan lebih cepat dan biaya angkut dapat ditekan. ***

Editor : Ajiv Ibrohim
#beras #kenaikan #satgas pangan