News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Selamat Datang di Indonesia, Paus Fransiskus: Menyelami Kombinasi Unik Antara Spiritualitas Jesuit dan Fransiskan

Ubaidillah • Selasa, 3 September 2024 | 14:13 WIB
Paus Francis melambaikan tangan ketika dia tiba untuk memimpin audiensi umum mingguannya di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 10 Februari 2016. (REUTERS/Max Rossi) (Max Rossi)
Paus Francis melambaikan tangan ketika dia tiba untuk memimpin audiensi umum mingguannya di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 10 Februari 2016. (REUTERS/Max Rossi) (Max Rossi)

Radarbangkalan.id - “Saya lebih memilih Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena berada di jalanan,

daripada Gereja yang tidak sehat karena terkurung dan bergantung pada keamanannya sendiri.” (Evangeli Gaudium, 49) Kalimat ini merupakan kutipan dari nasihat apostolik pertama Paus Fransiskus,

Evangelii Gaudium (Suka Cinta Injil), yang disampaikan pada 24 November 2013. Kalimat ini menggambarkan misi kepausannya, yaitu Gereja yang berpihak pada kaum lemah, terpinggirkan, dan miskin.

Paus Fransiskus tidak menginginkan agama yang hanya dibatasi dalam kehidupan pribadi tanpa pengaruh pada masyarakat.

Oleh karena itu, ia mengajak Gereja untuk keluar dari zona nyaman, menjangkau dan melayani seluruh umat manusia,

sambil mengedepankan dialog antar-agama dan penghormatan terhadap lingkungan hidup, sejalan dengan ajaran cinta kasih universal.

Paus Fransiskus, lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio, terpilih menjadi paus ke-266 Gereja Katolik pada 13 Maret 2013.

Sosoknya amat istimewa karena menyandang banyak atribut sebagai “yang pertama”. Ia adalah paus pertama dari luar Eropa dalam 1200 tahun terakhir,

paus pertama dari benua Amerika Latin, paus pertama dari Argentina, paus pertama dari Ordo Serikat Yesus (SJ), dan paus pertama yang mengenakan nama Fransiskus.

Meskipun ia seorang Jesuit dan pernah menjabat sebagai pemimpin provinsi Argentina, ia memilih nama Fransiskus sebagai nama kepausannya yang merujuk pada Santo Fransiskus Assisi.

Di sini menariknya, alih-alih memilih nama Ignatius yang adalah pendiri Ordo Serikat Yesus, ia malah memilih nama Fransiskus yang merujuk pada Santo Fransiskus Assisi,

pendiri Ordo Fratrum Minorum (OFM). Fransiskus yang dipilihnya juga tidak merujuk pada Fransiskus Xaverius,

co-founder Ordo Serikat Yesus yang pernah datang ke kepulauan Maluku untuk menyebarkan agama Katolik.

Ordo Serikat Yesus (SJ) dan Ordo Fratrum Minorum (OFM) adalah dua kelompok religius besar dalam Gereja Katolik.

Anggota Ordo Serikat Yesus disebut Jesuit, dengan tambahan SJ di belakang nama mereka. Sementara, anggota Ordo Fratrum Minorum disebut Fransiskan,

dengan tambahan OFM di belakang nama mereka. SJ identik dengan karya pendidikan yang menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan terkemuka,

sedangkan karya-karya kerasulan para Fransiskan adalah sekolah-sekolah bagi orang miskin, panti asuhan, dan rumah singgah.

Kefransiskan Paus Fransiskus tidak muncul tiba-tiba setelah ia menjadi paus. Sebagai kardinal Buenos Aires,

ia dikenal dengan kehidupan sederhana dan kedekatannya dengan orang-orang miskin. Setelah terpilih menjadi Paus,

ia tetap menunjukkan perilaku bersahaja, memilih tinggal di apartemen Santa Marta daripada Istana Apostolik yang megah.

Sikap Paus Fransiskus yang menghindari protokol formal dan interaksi langsung dengan orang-orang biasa mencerminkan sisi ke-Fransiskan-nan dalam kehidupannya.

Ia sering terlihat berbaur dengan umatnya, memeluk anak-anak, dan menyapa penyandang disabilitas dengan hangat.

Perhatian terhadap orang miskin dan terpinggirkan adalah cerminan nyata dari spiritualitas Fransiskan.

Paus Fransiskus juga mencerminkan nilai-nilai Fransiskan dalam ajaran-ajarannya, khususnya melalui ensiklik-ensikliknya, seperti Laudato Si' dan Fratelli Tutti.

Laudato Si' menyoroti perlunya merawat alam dan menciptakan model kelestarian alam, sedangkan Fratelli Tutti berbicara tentang persaudaraan universal sebagai jalan menuju perdamaian dan keadilan di dunia.

Penggabungan antara spiritualitas Jesuit dan Fransiskan dalam diri Paus Fransiskus menciptakan dinamika unik dalam kepemimpinannya.

Sebagai seorang Jesuit, ia berkomitmen pada disiplin spiritual dan pelaksanaan misi Gereja, namun pengaruh Fransiskan memberikan sentuhan kemanusiaan yang hangat dan kepekaan terhadap isu-isu sosial.

Selamat datang di Indonesia, Paus Fransiskus, seorang Jesuit yang sangat Fransiskan. Peluk hangat!

Dokumentasi Kanwil Kemenkumham DIY
Dokumentasi Kanwil Kemenkumham DIY
Dokumentasi Kanwil Kemenkumham DIY
Dokumentasi Kanwil Kemenkumham DIY
Photo
Photo
Editor : Ubaidillah
#paus fransiskus #Paus ke Indonesia #Paus Fransiskus ke Indonesia