Di tengah gegap gempita media sosial, hiruk-pikuk dunia maya, dan riuhnya isu politik yang silih berganti, masih ada cerita sunyi yang berbicara lantang. Bukan karena volume, melainkan karena ketulusan yang menembus batas ruang dan waktu. Cerita itu datang dari sebuah sudut kota di Sukabumi, Jawa Barat. Tentang seorang pemuda biasa, dengan aksi luar biasa. Namanya Cecep Abdullah, usianya baru 27 tahun. Tapi langkah kecilnya telah menorehkan jejak besar yang menggugah hati banyak orang.
Peluh dan Niat Suci
Cecep bukan marbot. Bukan pula petugas kebersihan masjid yang digaji DKM. Ia hanya seorang pemuda yang sehari-hari berjualan tahu gejrot dan cilok di sudut kota. Namun sejak tahun 2010, ada satu kebiasaan yang ia lakukan secara sukarela—membersihkan toilet dan tempat wudu masjid.
Tanpa diminta. Tanpa imbalan.
Ia membawa sendiri ember, sikat, cairan pembersih dari rumah. Sabun dan disinfektan dibeli dari kocek pribadi. “Masjid itu tempat ibadah. Saya miris kalau tempat wudunya kotor, padahal itu bagian awal dari bersuci,” ujar Cecep, dalam nada yang rendah namun penuh keteguhan.
Ia melakukannya di sela waktu berdagang. Tidak ada kamera. Tidak ada sorotan. Hanya niat, pel, dan segenap cinta untuk rumah Allah.
Baca Juga: Belum Berangkat, Jamaah Haji Asal NTT Meninggal di RS Haji Surabaya
Dari Viral ke Viral… Tapi Tetap Sederhana
Barulah belakangan, Cecep mendokumentasikan kegiatannya lewat akun Instagram @cleanermasjid. Video-video pendek itu pelan-pelan menyebar. Tak sekadar menginformasikan, tapi menyentuh hati. Warganet memuji, bahkan mengaku malu. Karena di era digital yang serba instan, masih ada orang yang rela kotor demi kebersihan tempat ibadah.
Kisahnya pun sampai ke telinga pejabat. Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, menyambangi langsung rumah Cecep untuk memberikan apresiasi. Pemerintah bahkan menawarkan bantuan UMKM, hingga peluang kerja dari Dinas Sosial.
Tapi Cecep menolak halus. “Saya belum mau ambil pekerjaan tetap. Saya masih ingin bersih-bersih masjid,” ucapnya lirih, namun pasti.
Baca Juga: Jelang Pelaksanaan Puncak Haji, Ratusan Ribu Jemaah Indonesia Menuju Kota Makkah
Doa dari Raudhah, Jawaban dari Langit
Beberapa sponsor menawarkan hadiah umrah. Tapi kejutan datang dari arah yang tak terduga. Seorang pimpinan televisi nasional menghubungi Cecep. Isinya: undangan haji dari Kerajaan Arab Saudi. Cecep terdiam.
Ia teringat doanya di Raudhah, dua bulan sebelumnya. “Saya waktu itu minta bisa haji, tapi bukan karena uang. Saya minta diundang,” kenangnya. Permintaan yang mustahil bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Tuhan.
Kini, Cecep bersiap berangkat ke Tanah Suci, menjadi satu dari 20 orang Indonesia yang diundang secara khusus oleh Raja Salman sebagai tamu kehormatan.
Untuk Anak Muda, Jangan Hanya Keren
Cecep tidak ingin disebut pahlawan. Ia tidak sedang mengejar popularitas. Ia hanya ingin memberi contoh. Bahwa menjadi berguna tidak harus menunggu kaya, pintar, atau terkenal.
“Saya ingin anak-anak muda zaman sekarang nggak cuma kelihatan keren di medsos, tapi juga bisa berguna. Mulai aja dari hal kecil. Misalnya bersihkan tempat wudu,” ucapnya.
Cecep telah menunjukkan bahwa keberkahan bisa datang dari tempat yang tidak kita duga. Dari lantai licin toilet masjid, langkahnya kini menuju lantai marmer Masjidil Haram. Dari ember sabun di gang kecil Sukabumi, langkahnya sampai ke pelataran Ka’bah.
Dan semua itu dimulai dari niat yang bersih. Hati yang tulus. Serta tangan yang rela kotor demi ibadah yang suci.
Cecep, terima kasih telah mengingatkan kami… bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia. (*)
Editor : Mohammad Sugianto