News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kisah Pilu Penyintas Banjir Aceh Tamiang: “Seperti Kota Zombie” Tanpa Bantuan Selama Sembilan Hari

Ubaidillah • Selasa, 9 Desember 2025 | 13:05 WIB
Seorang bocah berjalan meniti kayu-kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang. (ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso)
Seorang bocah berjalan meniti kayu-kayu yang memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang. (ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso)

Radarbangkalan.id - Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah setelah banjir bandang menghantam kawasan tersebut pada Rabu (26/11).

Dua desa terdampak paling berat adalah Desa Lintang Bawah dan Sukajadi, yang kini hanya menyisakan reruntuhan bangunan, kayu gelondongan, lumpur tebal, serta beberapa rumah yang masih berdiri.

Sejumlah penyintas menceritakan perjuangan mereka bertahan hidup tanpa bantuan selama berhari-hari. Fitriana, warga Desa Lintang Bawah, menggambarkan situasi mencekam itu.

Baca Juga: Fakta Baru Kasus WO Ayu Puspita: Bayar Lunas Puluhan Juta, Layanan Resepsi Tak Disediakan

"Mereka yang selamat itu tinggal di atas bubung-bubung (atap) rumah, pertolongan enggak ada... Ada juga yang bertahan di atas atap rumah bersama anaknya, yang umur empat tahun, selama tiga hari tidak makan dan tidak minum," ungkapnya.

Selama sembilan hari, tak ada bantuan yang tiba di wilayah ini. Salah satu warga bahkan menyebut kondisi Aceh Tamiang seperti "kota zombie" karena porak-poranda dan aroma bangkai yang menyengat. Dalam kondisi terdesak, sejumlah toko grosir dan swalayan dijarah warga demi mencari makanan.

BNPB melaporkan bahwa per Sabtu siang (06/12), terdapat 48 korban tewas dan 18 orang terluka di Aceh Tamiang.

Baca Juga: Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Banjir, Prabowo Geram dan Minta Mendagri Proses Pencopotan

Hampir seluruh rumah di Desa Lintang Bawah dan Sukajadi rusak parah akibat hantaman banjir dan kayu gelondongan.

Warga Bertahan di Atap Rumah

Fitriana menyebut bahwa mayoritas rumah di desanya rusak berat, sehingga banyak warga terpaksa bertahan di atap rumah selama berhari-hari.

"Mereka yang selamat itu tinggal di atas bubung-bubung [atap] rumah, pertolongan enggak ada," ucapnya.

Ia menggambarkan malam-malam penuh ketakutan, saat suara gemuruh banjir dan kayu besar menghantam bangunan terdengar dari segala arah.

Baca Juga: Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Banjir, Prabowo Geram dan Minta Mendagri Proses Pencopotan

Banjir tersebut menghancurkan sekitar 90% rumah warga. Dari lebih dari 300 kepala keluarga, hampir semua kehilangan tempat tinggal.

Hingga kini, Fitriana bersama keluarga dan beberapa warga lainnya tinggal di posko darurat yang mereka dirikan sendiri dari sisa-sisa kayu rumah warga.

Penyintas Lain: Mengungsi Berulang Kali

Di Desa Sukajadi, kondisi serupa terjadi. Dari 323 kepala keluarga, hampir seluruhnya kehilangan rumah. M. Nur, imam gampoeng, menceritakan bahwa ia dan keluarganya harus mengungsi berkali-kali.

Baca Juga: Profil Lengkap Tasya Allesia: Finalis DA7 Berusia 15 Tahun yang Raih D’Sultan

Ia menuturkan, "[Pas banjir datang] Awalnya kami di rumah saja... Lama-lama airnya semakin tinggi. Beruntung ada kapal yang lewat evakuasi kami."

Namun setelah dievakuasi ke Desa Kesehatan dan kemudian ke Desa Gampoeng Dalam, kedua wilayah itu juga ikut direndam banjir. Mereka akhirnya menyelamatkan diri di rumah menantunya yang bertingkat.

Penjarahan Meluas dan Napi Terpaksa Dilepaskan

Arif, warga Kampung Dalam, mengatakan terjadi penjarahan besar-besaran setelah beberapa hari banjir menghantam.

Ia menyebut, "Penjarahan di mana-mana."

Harga sembako melambung, bahkan beras 10 kilogram mencapai Rp250.000, membuat warga yang sebelumnya masih membeli akhirnya memilih mengambil langsung dari toko-toko yang rusak.

Baca Juga: Desa Sekumur Hilang Diterjang Banjir Bandang Aceh Tamiang, Hanya Masjid yang Tersisa

Selain itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengungkapkan bahwa sejumlah narapidana terpaksa dilepaskan karena lapas terendam hingga mencapai atap. "Untuk ya alasannya kemanusiaan... nanti kalau enggak dilepas, kalau sampai ke atap, nanti kami yang salah," ujarnya.

Akses Jalan Mulai Dibuka, Bantuan Mengalir

Enam hari setelah banjir, akses darat dari Medan ke Aceh Tamiang mulai dibuka kembali pada Selasa (02/12). BNPB mengerahkan alat berat untuk membersihkan material lumpur dan puing.

Bantuan logistik juga dikirim melalui jalur udara ke Kecamatan Bandar Pusaka, termasuk makanan siap saji, hygiene kit, selimut, matras, dan alat kebersihan.

Pasokan Listrik dan Air Mulai Dipulihkan

PLN bergerak cepat mengirim genset ke sejumlah titik penting di Aceh Tamiang, termasuk RSUD Muda Sedia. Direktur RSUD Andika Putra mengatakan, "Di tengah kondisi yang serba sulit, kehadiran listrik dari PLN adalah penyelamat."

Genset tambahan juga dikirim untuk mengaktifkan PDAM agar pasokan air bersih dapat kembali normal.

Proses pemulihan ini diharapkan bisa mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar warga sambil menunggu perbaikan jangka panjang di wilayah Aceh Tamiang.

Editor : Ubaidillah
#banjir aceh #alam #kota zombie #lingkungan #aceh tamiang #indonesia