RadarBangkalan.id - Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Pati, Sudewo, menuai beragam reaksi dari masyarakat.
Penangkapan tersebut terjadi di tengah kondisi Kabupaten Pati yang sedang dilanda bencana banjir besar.
Baca Juga: KPK OTT di Madiun, Wali Kota Maidi Termasuk 9 Orang Dibawa ke Jakarta
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Harno, mengaku sangat terpukul dengan penangkapan sejumlah pejabat daerah, termasuk Bupati Pati.
Ia menilai peristiwa itu terasa semakin menyayat hati karena masyarakat Pati sedang berjuang menghadapi dampak banjir.
Aktivis Prihatin, Namun Apresiasi Langkah KPK
Harno menyampaikan rasa prihatin sekaligus kekecewaan atas dugaan praktik korupsi yang terjadi saat warga tengah menghadapi musibah.
Baca Juga: OTT KPK, Bupati Pati Sudewo Keluar dari Polres Kudus Tengah Malam
Ia menyebut, di saat masyarakat berjuang menyelamatkan harta benda dan nyawa, justru muncul kabar adanya pejabat yang terlibat praktik korupsi.
Meski demikian, Harno mengaku juga merasakan kelegaan atas langkah tegas KPK dalam memberantas korupsi.
Ia berharap penangkapan tersebut menjadi momentum perbaikan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Pati.
Baca Juga: Pesawat ATR IAT Hilang Kontak di Maros, 400 Personel SAR Dikerahkan
Menurutnya, tertangkapnya Sudewo melalui OTT harus menjadi titik awal untuk membersihkan pemerintahan daerah dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Harapan Perubahan Tata Kelola Pemerintahan
Harno menegaskan bahwa perjuangan masyarakat tidak berhenti pada penangkapan satu pejabat saja.
Ia memastikan AMPB akan terus mengawal jalannya pemerintahan agar praktik serupa tidak terulang kembali.
Baca Juga: Barcelona Tumbang 1-2 di Markas Real Sociedad, Gol Rashford Tak Cukup
Ia juga berharap seluruh pejabat publik dapat mengambil pelajaran penting dari kasus ini, terutama untuk lebih mengutamakan kepentingan rakyat di saat masyarakat sedang menghadapi bencana.
Data Banjir Pati: Puluhan Ribu Warga Terdampak
Sementara itu, bencana banjir di Kabupaten Pati telah menimbulkan dampak yang sangat besar. Berdasarkan data terbaru Pemerintah Kabupaten Pati, sebanyak 61.606 warga terdampak, 20.194 rumah terendam, dan dua orang meninggal dunia.
Baca Juga: Respons Aurelie Moeremans soal Kasus Child Grooming yang Baru Viral
Banjir melanda 12 kecamatan, yakni Dukuhseti, Juwana, Pati, Jakenan, Gabus, Wedarijaksa, Sukolilo, Tayu, Margorejo, Margoyoso, Kayen, dan Batangan.
Kerugian Pertanian dan Infrastruktur Capai Ratusan Juta
Dampak terparah terjadi pada sektor pertanian dan infrastruktur. Sebanyak 7.355 hektar sawah terendam dengan perkiraan kerugian mencapai Rp 301 juta.
Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon
Selain itu, 1.371 hektar tambak terdampak dengan kerugian sekitar Rp 54 juta, serta 66 hektar lahan bawang merah rusak dengan kerugian mencapai Rp 4,5 juta.
Kerusakan infrastruktur meliputi jalan rusak senilai Rp 170 juta, jembatan rusak Rp 16 juta, tanggul dan talud jebol Rp 75 juta, serta bendung dan tambak rusak Rp 17 juta.
Secara keseluruhan, total kerugian akibat banjir di Kabupaten Pati diperkirakan mencapai Rp 637,5 juta, memberikan tekanan ekonomi besar bagi masyarakat yang masih berjuang untuk pulih dari bencana.
Editor : Ubaidillah