RadarBangkalan.id - Pasar minyak dunia berada dalam ketidakpastian yang meresahkan seiring dengan gejolak yang terus melanda Timur Tengah.
Pada Senin atau Selasa pagi waktu Indonesia, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan, menjadi saksi dari dampak serangkaian konflik di kawasan tersebut.
Kenaikan harga sebesar 2 persen pada minggu sebelumnya mendorong pelaku pasar untuk mengambil keuntungan.
Tetapi respons tersebut justru memperdalam kerentanan dan menciptakan ketegangan tambahan dalam pasar minyak global.
Melansir laporan dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent mengalami penurunan sekitar 0,2 persen atau 14 sen, menyentuh angka USD 78,15 per barel.
Sementara itu, harga acuan West Texas Intermediate AS turun sekitar 0,3 persen atau 18 sen, mencapai USD 72,50 pada pukul 15.13 EST.
Penurunan lebih dari USD 1 per barel terjadi di awal sesi perdagangan, menciptakan ketegangan tambahan dalam pasar minyak global.
Konflik di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga minyak, tetapi juga meluas hingga ke sektor perkapalan.
Pemilik kapal tanker berupaya menghindari Laut Merah dan mengubah rute pelayaran mereka sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan oleh AS dan Inggris terhadap sasaran Houthi di Yaman.
Serangkaian serangan ini terjadi setelah kelompok yang bersekutu dengan Iran menyerang kapal-kapal sebagai tanggapan terhadap konflik antara Israel dan Hamas di Gaza.
Dampaknya turut dirasakan pada setidaknya empat kapal tanker gas alam cair yang melintasi wilayah tersebut.
Tamas Varga dari pialang minyak PVM mengungkapkan, "Realisasi bahwa pasokan minyak tidak terkena dampak buruk menyebabkan pembeli mengambil keuntungan pada minggu lalu, dan penurunan ini agak diperburuk oleh kekuatan dolar yang sedikit lebih tinggi."
Kepala perunding Houthi Yaman memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal yang menuju Israel akan terus berlanjut, menambah ketegangan dalam situasi regional yang sudah tegang.
Meskipun belum ada laporan kehilangan pasokan minyak, gangguan pengiriman secara tidak langsung memperketat pasar dengan menahan 35 juta barel di laut.
Pengiriman harus mencari rute yang lebih panjang untuk menghindari Laut Merah, menciptakan ketidakpastian lebih lanjut dalam suplai minyak global.
Di samping itu, di Libya, gelombang protes terhadap dugaan korupsi mengancam menutup dua fasilitas minyak dan gas lagi setelah sebelumnya menutup ladang Sharara yang mampu memproduksi 300.000 barel per hari pada 7 Januari.
Di Amerika Serikat dan Kanada, cuaca dingin yang ekstrem menghambat produksi minyak. Produksi minyak Dakota Utara telah merosot sebanyak 400.000-425.000 barel per hari akibat cuaca dingin dan masalah operasional terkait.
"Cuaca dingin berdampak pada produksi, namun (harga) tampaknya turun karena persepsi bahwa cuaca dingin ini akan segera berakhir," ujar Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.
Situasi ini memberikan dinamika tambahan pada pasar minyak dunia yang tengah diliputi ketidakpastian, menandai periode yang sulit bagi pelaku pasar dan produsen minyak di seluruh dunia.
Ketidakpastian meluas, dan pasar minyak bergulat dengan tantangan yang belum terlihat sebelumnya.***
Editor : Raditya Mubdi