Radarbangkalan.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berhasil membuat gaduh dunia pekan lalu lewat penetapan tarif tinggi untuk setiap negara, termasuk Indonesia.
RI akan dikenai tarif resiprokal atau timbal balik hingga 32% akibat besarnya defisit AS ke Indonesia.
Baca Juga: China Tetap Teguh Hadapi Ancaman Kenaikan Tarif 100% dari Trump
Kebijakan tarif Trump memicu ketidakpastian global hingga saling serang perang dagang. Dampak yang dapat dirasakan rupiah diperkirakan akan besar mulai dari kaburnya investor asing di pasar keuangan Tanah Air hingga gejolak eksternal yang tinggi.
Berikut fakta lainnya terkait tarif Trump terhadap negara di dunia, seperti dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber pada Selasa (8/4/2025):
-
Trump Berlakukan Tarif Resiprokal ke RI Cs Besok
Trump akan tetap memberlakukan kebijakan tarif resiprokal alias tarif timbal balik untuk produk impor dari berbagai negara Rabu, 9 April esok. Ini pun tidak terkecuali produk dari Indonesia.
Melansir CNBC International, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengungkapkan Pemerintahan Trump akan tetap teguh dalam tarif timbal baliknya pada mitra dagang utama AS. Bahkan dalam menghadapi aksi jual di pasar saham global.
Aksi jual di bursa saham AS dan di seluruh dunia kompak terjadi setelah Trump mengumumkan tarif baru pada 2 April waktu setempat.
Selain bea masuk dasar 10% pada semua barang impor, Trump mengumumkan pungutan yang lebih tinggi pada impor dari 57 negara, yang akan diberlakukan mulai 9 April 2025 mendatang.
"Tarif akan tetap berlaku. Dia mengumumkannya, dan dia tidak bercanda. Tarif akan datang. Tentu saja mereka (berlaku)," kata Lutnick.
"Tidak ada penundaan. Mereka pasti akan tetap di tempat selama berhari-hari dan berminggu-minggu.
Baca Juga: China Tetap Teguh Hadapi Ancaman Kenaikan Tarif 100% dari Trump
Presiden perlu mengatur ulang perdagangan global. Semua orang memiliki surplus perdagangan dan kita memiliki defisit perdagangan," tambahnya.
-
Trump Ancam China, Kena Tarif 104%
Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50% atas impor dari China jika Beijing tidak mencabut kebijakan tarif balasannya pada Selasa. China ini terjadi, tarif barang China di AS akan menjadi 104%.
Ancaman yang dirilis melalui platform Truth Social ini menandai eskalasi terbaru dari konflik dagang yang telah menyebabkan kejatuhan pasar saham global selama tiga hari berturut-turut, sejak Trump mengumumkan perang tarif terhadap mitra dagang AS pekan lalu.
Baca Juga: China Tetap Teguh Hadapi Ancaman Kenaikan Tarif 100% dari Trump
"China memberlakukan kenaikan tarif sebesar 34% meskipun saya telah memperingatkan bahwa setiap negara yang membalas terhadap AS dengan menerapkan tarif tambahan akan segera dikenai tarif baru yang jauh lebih tinggi, di atas tarif yang telah diberlakukan sebelumnya," tulis Trump dalam pernyataannya.
"Jika China tidak menarik kembali kenaikan tarif sebesar 34% tersebut, yang datang di atas praktik perdagangan abusive mereka selama bertahun-tahun,
AS akan mengenakan tarif TAMBAHAN sebesar 50% yang mulai berlaku pada 9 April 2025," tegas Trump.
"Selain itu, seluruh pembicaraan dengan China terkait permintaan pertemuan mereka akan dihentikan!" tulisnya. "Negosiasi dengan negara-negara lain yang juga meminta pertemuan akan langsung dimulai."
-
Eropa Siapkan Tarif Balasan 25% untuk AS
Komisi Eropa mengajukan tarif balasan sebesar 25% terhadap berbagai produk asal AS. Langkah ini merupakan respons langsung atas kebijakan tarif Trump terhadap baja dan aluminium dari Eropa,
yang dinilai oleh Uni Eropa sebagai tindakan proteksionis sepihak yang merugikan hubungan dagang jangka panjang.
Menurut dokumen yang diperoleh Reuters, Komisi Eropa menetapkan bahwa sebagian tarif tersebut akan mulai berlaku pada 16 Mei. Sementara sisanya akan diterapkan pada 1 Desember.
Produk-produk yang dikenai tarif sangat beragam, mulai dari berlian, telur, benang gigi, sosis, hingga unggas. Adapun tarif untuk produk seperti almond dan kedelai akan diberlakukan pada Desember.
Baca Juga: China Tetap Teguh Hadapi Ancaman Kenaikan Tarif 100% dari Trump
"Langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk menjaga keseimbangan dalam hubungan perdagangan internasional tanpa memperkeruh situasi yang sudah tegang," ujar Sefcovic, dilansir Reuters pada Selasa.
-
Risiko Resesi AS Meningkat Pasca Tarif Trump
Raksasa perbankan Goldman Sachs telah menaikkan prakiraan risiko resesi di AS sebanyak dua kali pada pekan lalu. Hal ini terjadi setelah Trump menjatuhkan tarif kepada seluruh negara dunia.
Mengutip Reuters, Goldman awalnya menaikkan estimasinya dari 20% menjadi 35% awal pekan lalu karena kekhawatiran bahwa tarif yang direncanakan Trump akan mengguncang ekonomi global.
Beberapa hari kemudian, Trump mengumumkan bea masuk yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, yang telah memicu aksi jual di pasar global.
Kemudian pada Minggu, Goldman kembali menaikkan peluang resesi AS menjadi 45% dari 35%. Hal ini karena kekhawatiran bahwa tarif tidak hanya akan memicu inflasi AS tetapi juga memicu tindakan pembalasan dari negara-negara lain, seperti yang telah diumumkan China.
Lembaga itu juga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi AS untuk tahun 2025. Dari sebelumnya 1,5% menjadi 1,3%.
-
Tarif Trump Jadi Bumerang ke Jet Tempur F-47 AS
Pembalasan China atas tarif Trump mulai memukul industri pertahanan dan kedirgantaraan AS. Beijing mengenakan tarif 34% atas barang AS serta mengekang ekspor mineral tanah jarang termasuk itrium, yang penting bagi mesin jet tempur.
"China membuat daftar itu secara strategis. Mereka memilih hal-hal yang penting bagi ekonomi AS," kata direktur American Rare Earths, Mel Sanderson, seperti dilansir Newsweek.
"Pesawat siluman seperti F-47 bergantung pada unsur tanah jarang seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium untuk magnet, aktuator, dan sistem radar berkinerja tinggi," menurut konsultan SFA Oxford.
-
Nilai Tukar Dolar AS Dibuka Tembus Rp 16.850
Nilai tukar rupiah ambles terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global dan perang dagang. Berdasarkan Refinitiv, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka pada Rp16.850/US$, melemah 1,78%. -
IHSG Dibuka Langsung Trading Halt
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun 9,19% ke 5.912,06 akibat sentimen negatif tarif dagang Presiden AS, Donald Trump.
Indeks LQ45 jatuh 11,31% ke 651,46. BEI melakukan trading halt pada pukul 09:00:00 waktu JATS.
"Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:30:00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan.
Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%," ujar Kautsar Primadi Nurachmad, selaku Sekretaris Perusahaan BEI, dalam pernyataannya.
-
Raksasa Teknologi Tumbang Akibat Tarif Trump
Saham tujuh perusahaan teknologi anjlok dan menghapus US$2 triliun dari nilai gabungannya. Saham Tesla turun 7%, Apple merosot 4,8%, dan Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, serta Nvidia menurun antara 1,5% hingga 4,8%.
"Menurut kamu, konsep iPhone di AS tidak mungkin dilakukan dengan US$1.000. Harga akan naik drastis membuat sulit dipahami," ucap Ives.
-
Singapura Respons Tarif Trump
Singapura akan membentuk gugus tugas nasional untuk mendukung bisnis dan pekerja. Gugus tugas ini akan dipimpin Wakil PM Gan Kim Yong dan melibatkan berbagai lembaga nasional.
"Ketidakpastian global dan sentimen yang menurun, juga akan berdampak pada beberapa industri jasa, termasuk keuangan dan asuransi," tambah pria yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan Singapura itu.
"Pertumbuhan yang lebih lambat akan berarti lebih sedikit kesempatan kerja dan kenaikan upah yang lebih kecil bagi pekerja," katanya.
-
Vietnam Beli Semua Barang AS
Vietnam akan membeli lebih banyak produk AS, termasuk pertahanan, guna menunda penerapan tarif sebesar 46%. PM Vietnam meminta waktu negosiasi dan berharap bertemu Trump di Washington.
"Langkah-langkah tersebut mengancam akan merusak secara signifikan model pertumbuhan Vietnam saat ini, yang sangat bergantung pada ekspor ke AS," kata analis risiko negara senior di firma riset BMI, Sayaka Shiba.
-
Malaysia Mulai Dialog ke Trump
PM Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan akan mengirim pejabat ke Washington untuk memulai dialog tarif.
"Namun, kami tidak percaya pada diplomasi megafon," ujarnya.
"Angin mungkin berubah, tetapi kita tidak akan terombang-ambing. Strategi diversifikasi perdagangan kami sudah mulai berkembang pesat," katanya.
"Total perdagangan barang kita mencapai US$3,5 triliun. Namun, angka ini tidak dijamin. Dengan rentetan tarif yang melanda dunia dengan cepat dan dahsyat,
kita menyaksikan terkikisnya tatanan global. Oleh karena itu, ASEAN harus lebih mengandalkan dirinya sendiri," katanya.
"Upaya-upaya ini tidak terjadi begitu saja. Upaya-upaya ini berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian, yang melampaui pilihan kebijakan satu negara mana pun."
Editor : Ubaidillah