News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Donald Trump Klaim Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel, Iran Berduka 40 Hari

Ubaidillah • Senin, 2 Maret 2026 | 06:47 WIB

Foto: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menghadiri upacara untuk memperingati Asyura, hari paling suci dalam kalender Muslim Syiah, di Teheran, Iran, 5 Juli 2025. (via REUTERS/Office)
Foto: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menghadiri upacara untuk memperingati Asyura, hari paling suci dalam kalender Muslim Syiah, di Teheran, Iran, 5 Juli 2025. (via REUTERS/Office)

RadarBangkalan.id - Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Baca Juga: Profil Ali Khamenei: Pemimpin Tertinggi Iran yang Wafat dalam Serangan Udara AS-Israel

Otoritas Iran disebut akhirnya membenarkan klaim tersebut. Presenter televisi media pemerintah bahkan menitihkan air mata saat menyampaikan kabar itu, seperti dikutip dari BBC International. Negara dilaporkan diselimuti duka mendalam dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Khamenei dan sejumlah pejabat Iran "tidak bisa lolos dari intelijen AS dan sistem pelacakan paling canggih." Hingga kini, Teheran belum mengonfirmasi klaim tersebut secara resmi.

Baca Juga: 5 Alasan Serangan Israel dan AS ke Iran, Dampak Geopolitik Bisa Mengguncang Dunia

Peran Sentral Ali Khamenei dalam Politik Iran

Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam Iran pada 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini. Jika Khomeini dikenal sebagai arsitek ideologis Revolusi Islam 1979, Khamenei memperkuat fondasi kekuasaan negara melalui penguatan militer, paramiliter, dan jaringan pengaruh regional.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran pada era Perang Iran-Irak (1980–1988). Konflik tersebut membentuk pandangannya yang sangat curiga terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat yang kala itu mendukung Irak di bawah Saddam Hussein.

Baca Juga: Iran Serang Pangkalan Militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan UEA

"Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran rentan dan harus selalu siap menghadapi ancaman," kata Vali Nasr, pakar Iran dan penulis Iran's Grand Strategy, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).

Menurut Nasr, bagi Khamenei, revolusi, republik Islam, dan nasionalisme Iran merupakan satu kesatuan yang harus dilindungi.

Baca Juga: Cremonese vs AC Milan: Rossoneri Menang 2-0, Kokoh di Posisi Kedua

Membangun Negara Keamanan dan Ekonomi Perlawanan

Di bawah kepemimpinan Khamenei, Korps Garda Revolusi Islam berevolusi menjadi kekuatan dominan, bukan hanya di bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi. Ia juga mengusung konsep “ekonomi perlawanan” untuk menjaga kemandirian Iran di tengah tekanan sanksi Barat.

Baca Juga: Leeds vs Man City Disetop untuk Buka Puasa, Suporter The Whites Soraki Laga

Namun pendekatan keras ini menuai kritik luas di dalam negeri. Penindakan terhadap protes pemilu 2009 serta demonstrasi 2022 terkait hak perempuan memperlihatkan gaya kepemimpinan yang memandang ketidakstabilan domestik sebagai ancaman keamanan nasional.

"Rakyat Iran membayar harga yang terlalu mahal atas penegasan kemerdekaan nasional versi ini," kata Nasr. "Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan sebagian besar masyarakat."

Baca Juga: Pesta Gol di Anfield! Liverpool Tumbangkan West Ham 5-2

Dari Pragmatisme ke Konfrontasi

Meski dikenal tegas, Khamenei juga menunjukkan sisi pragmatis saat menyetujui perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) guna meredakan tekanan ekonomi akibat sanksi internasional. Namun keputusan Amerika Serikat di bawah Trump yang menarik diri dari kesepakatan itu membuatnya kembali pada sikap konfrontatif dan menolak dialog dengan Washington.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Melempem dari Titik Putih, Al Nassr Bungkam Al Feiha 3-1

Ia mendorong strategi “bukan damai, bukan perang” serta memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai poros perlawanan, termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi. Strategi ini menjadikan Iran pemain kunci dalam konflik kawasan sekaligus target utama Israel.

Dalam salah satu pidatonya, Khamenei menegaskan Iran tidak akan tunduk. "Bangsa Iran tidak akan menyerah. Intervensi militer AS akan membawa kerusakan yang tak bisa diperbaiki," katanya.

Baca Juga: Viral Video Ukhti Mukena Pink Tanpa Sensor, Publik Dibuat Penasaran

Dampak Geopolitik Kematian Ali Khamenei

Meninggalnya Ali Khamenei berpotensi menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran sejak 1979. Bagi pendukungnya, ia adalah simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Namun bagi para pengkritik, ia dianggap semakin terputus dari aspirasi generasi muda Iran yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi.

Baca Juga: Samsung Galaxy S26 Series Resmi Rilis Global, Ini Harga dan Spesifikasinya di Indonesia

Perkembangan situasi ini diperkirakan akan sangat menentukan arah politik dalam negeri Iran serta dinamika ketegangan di kawasan Timur Tengah ke depan.

Editor : Ubaidillah
#Korps Garda Revolusi Iran #konflik regional #strategi perlawanan #politik iran #sanksi barat #Pemimpin Iran #revolusi islam #ali khamenei #AS Israel Iran #kematian khamenei