News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kronologi Pengeroyokan Anggota Polisi oleh Pesilat PSHT di Jember: Dari Konvoi hingga Penangkapan

Ubaidillah • Rabu, 24 Juli 2024 | 19:35 WIB
Kronologi Pengeroyokan Anggota Polisi oleh Pesilat PSHT di Jember Dari Konvoi hingga Penangkapan
Kronologi Pengeroyokan Anggota Polisi oleh Pesilat PSHT di Jember Dari Konvoi hingga Penangkapan

Radarbangkalan.id - Polres Jember, Jawa Timur telah menangkap 22 pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang diduga terlibat dalam pengeroyokan seorang anggota Polri bernama Aipda Parmanto.

Kapolres Jember AKBP Bayu Pratama Gubunagi menjelaskan bahwa pengeroyokan ini terjadi saat pihaknya melakukan pengamanan dan patroli selama kegiatan Suroan Agung di Kecamatan Kaliwates, Minggu (21/7) malam hingga Senin (22/7) dinihari.

"Kronologinya adalah semalam memang merupakan puncak dari perayaan Suro Agung dari perguruan silat PSHT.

Dan kami sudah melakukan upaya-upaya pengamanan baik secara patroli kemudian pengawalan terhadap para peserta kegiatan," kata Bayu, Selasa (23/7).

Bayu menyebutkan bahwa ia sudah mengimbau para ketua ranting PSHT untuk meminta anggotanya agar tidak melakukan konvoi saat Suroan Agung. Namun, imbauan tersebut tampaknya tidak diindahkan oleh para pesilat.

"Namun demikian yang terjadi adalah masih banyaknya konvoi yang dilakukan. Ini sudah kami imbau melalui para ketua ranting maupun ketua cabang untuk tidak melakukan konvoi tetapi nyatanya di lapangan masih terjadi," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Bayu mengerahkan anggotanya untuk melakukan pengamanan di sejumlah titik selama kegiatan Suroan Agung.

"Kami telah membagi floating personil dari kegiatan yang utama yaitu di padepokan PSHT, kemudian di simpul-simpul jalan kami juga sebar personel, berdasarkan maping kerawanan wilayah," ucapnya.

Namun, dalam proses pengamanan, sekelompok pesilat yang sedang melakukan konvoi tiba-tiba memblokade pertigaan Jalan Raya Hayam Wuruk, Kecamatan Kaliwates, pada pukul 01.00 WIB, Senin (22/7).

"Kelompok massa yang melakukan konvoi ini memblokade jalan simpang tiga di depan Transmart. Nah ini kami melakukan penghalauan blokade untuk memerintahkan tidak menutup jalan tetapi malah dilakukan penganiayaan," ucap Bayu.

Akibatnya, salah satu anggota polisi, Aipda Parmanto, mengalami luka parah pada bagian wajah dan retak hidung sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Kaliwates.

"Kondisi anggota kami dalam keadaan baik sudah stabil sadar dan sehat. Hasil CT scan menunjukkan kondisi yang bagus tidak perlu ada tindakan operasi sebagiannya.

Walaupun bagian wajah ada lebam sekitar mata dan fraktur di bagian hidung," kata Bayu.

Setelah kejadian tersebut, polisi menangkap 22 pesilat PSHT yang diduga terlibat dalam pengeroyokan.

Dua orang diserahkan oleh pengurus PSHT, sementara 20 lainnya ditangkap paksa di rumah masing-masing. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya masih berusia di bawah umur.

"Kami sangat menyayangkan anak-anak kita terlibat peristiwa tindak pidana ini," tuturnya.

Berdasarkan keterangan sementara, pengeroyokan ini dipicu oleh kesalahpahaman. Para pesilat mengira bahwa polisi menangkap petugas Pengamanan Terate (Pamter).

"Motifnya adalah kesalahpahaman di lapangan di mana anggota Pamter yang melakukan pengamanan bersama dengan anggota Polri itu mengamankan diri ke mobil dinas polsek.

Tapi massa mengira Pamter itu diamankan oleh Polisi. Sehingga polisi jadi sasaran amuk atau pengeroyokan," ucap Bayu.

Saat ini, polisi terus mendalami peran 22 orang yang diamankan, karena mereka diduga melakukan pengeroyokan tidak hanya dengan tangan kosong.

"Pelaku yang kami amankan menyatakan semua pakai tangan kosong. Namun di TKP kami menemukan ada batu,

bambu, ini masih kami pastikan. Apakah batu atau bambu di sekitar TKP ada noda atau tetesan darah digunakan oleh para pelaku,

atau darah yang tercecer dari korban mengenai benda-benda itu. Masih kami dalami," pungkasnya.

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Ubaidillah
#pesilat #pengeroyokan #polisi jember dikeroyok psht #psht