RadarBangkalan.id - Sebuah survei dari Palestinian Centre for Public Opinion (PCPO) mengungkap bahwa mayoritas warga Palestina kecewa dengan respon negara-negara Arab dan Islam terhadap konflik di Gaza.
Survei yang melibatkan 1.500 warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat pada 5-15 Maret 2025 ini menunjukkan lebih dari dua pertiga responden merasa negara-negara tersebut tidak cukup membantu Gaza menghadapi serangan Israel.
Kekecewaan ini semakin terlihat di Gaza, di mana hampir 75% warga merasa negara-negara Arab tidak berbuat cukup. Di Tepi Barat, sentimen serupa juga diungkapkan oleh dua pertiga responden.
Presiden dan pendiri PCPO, Nabil Kukali, menjelaskan bahwa normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel menjadi faktor utama di balik ketidakpercayaan ini.
"Secara historis, Palestina mengandalkan negara-negara Arab dan Islam untuk dukungan politik, diplomatik, dan material. Namun, kini ada persepsi bahwa banyak negara lebih mengutamakan kepentingan geopolitik dan hubungan diplomatik dibandingkan dukungan bagi hak-hak Palestina," kata Kukali, dikutip dari The New Arab.
Menurut Kukali, perjanjian normalisasi antara beberapa negara Arab dan Israel semakin memperkuat ketidakpercayaan warga Palestina.
Banyak yang melihat kesepakatan ini sebagai indikasi bahwa perjuangan Palestina dikesampingkan demi kepentingan ekonomi dan strategi politik regional.
Selain itu, warga Palestina juga semakin khawatir dengan rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel yang disebut ingin menggusur paksa 2,2 juta penduduk Gaza.
Bahkan, usulan mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk "mengambil alih Gaza" dan mengubahnya menjadi "Riviera of Middle East" turut memicu kecemasan di kalangan warga Palestina.
Survei ini juga mengungkap perbedaan pandangan antara warga Gaza dan Tepi Barat mengenai Hamas dan Otoritas Palestina.
- Lebih dari 60% warga Gaza mendukung penyerahan kekuasaan kepada Otoritas Palestina, sedangkan di Tepi Barat hanya sekitar 25% yang setuju.
- Kurang dari 20% warga Gaza masih melihat Hamas sebagai representasi perlawanan Palestina, sementara di Tepi Barat, hampir 50% penduduk tetap mendukung Hamas.
Di tengah meningkatnya ketidakpercayaan warga Palestina, Komite Menteri Arab-Islam untuk Gaza kembali menegaskan penolakan terhadap pemindahan atau pengusiran paksa rakyat Palestina.
Dalam pertemuan mereka di Mesir bersama perwakilan Uni Eropa, mereka juga menekankan pentingnya menyatukan Gaza dan Tepi Barat di bawah Otoritas Palestina.
Sementara itu, Perdana Menteri Palestina, Mohammad Mustafa, kembali menyerukan gencatan senjata permanen dan penerapan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2735 untuk mengakhiri konflik berkepanjangan ini. ***
Editor : Azril Arham