RadarBangkalan.id - Seekor anak sapi di Texas, Amerika Serikat, dilaporkan terinfeksi New World screwworm, parasit berbahaya yang dikenal karena larvanya memakan jaringan hidup hewan.
Temuan ini menjadi perhatian serius karena merupakan kasus pertama pada ternak di Amerika Serikat dalam puluhan tahun terakhir. Meski tidak secara langsung mengancam keamanan pangan, kemunculan kembali parasit tersebut dikhawatirkan berdampak besar terhadap industri peternakan dan harga daging sapi.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Apa Itu New World Screwworm?
New World screwworm merupakan lalat parasit yang berkembang biak dengan meletakkan telur pada luka terbuka hewan.
Setelah telur menetas, larva atau belatung akan masuk ke area luka dan mulai memakan jaringan tubuh yang masih hidup.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Berbeda dengan sebagian besar jenis belatung yang hanya mengonsumsi jaringan mati, larva screwworm justru menyerang jaringan sehat. Akibatnya, luka dapat semakin membesar, menjadi lebih dalam, dan sulit sembuh.
Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat menyebabkan kerusakan organ, infeksi bakteri berat, hingga kematian pada hewan yang terinfeksi.
Kasus Pertama pada Ternak dalam Beberapa Dekade
Menurut laporan otoritas pertanian Amerika Serikat, kasus terbaru ditemukan pada seekor anak sapi berusia tiga minggu di wilayah Texas.
Temuan tersebut langsung memicu langkah penanganan darurat dari pemerintah, termasuk pembatasan perpindahan ternak, pengawasan intensif, dan karantina di area sekitar lokasi kasus.
Pemerintah juga mempercepat program pelepasan jutaan lalat jantan mandul untuk mengendalikan populasi screwworm.
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
Metode ini telah lama digunakan dalam pengendalian hama biologis. Ketika lalat betina kawin dengan lalat jantan mandul, tidak akan terbentuk keturunan sehingga populasi lalat dapat berkurang secara bertahap.
Dampak terhadap Industri Peternakan
Kemunculan kembali New World screwworm berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi sektor peternakan.
Infeksi pada ternak dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya pengobatan, serta mengganggu distribusi hewan ternak akibat pembatasan pergerakan.
Para ahli juga memperingatkan bahwa gangguan produksi dalam skala besar dapat memengaruhi pasokan daging sapi dan mendorong kenaikan harga di pasar.
Baca Juga: Momen Dadan Hindayana Digelandang ke Mobil Tahanan Usai Jadi Tersangka Korupsi BGN
Apakah New World Screwworm Bisa Menyerang Manusia?
Kasus infeksi pada manusia tergolong sangat jarang, tetapi tetap mungkin terjadi.
Risiko lebih tinggi ditemukan pada orang yang memiliki luka terbuka, bekerja di peternakan, atau sering beraktivitas di luar ruangan di wilayah yang terdapat populasi lalat tersebut.
Luka kecil seperti goresan atau bekas gigitan serangga pun dapat menjadi tempat lalat bertelur.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Apabila larva berkembang di dalam luka manusia, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang serius dan memerlukan penanganan medis segera.
Meski demikian, otoritas kesehatan Amerika Serikat menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum saat ini masih tergolong rendah.
Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, mengatakan seluruh pihak terkait terus menjalankan protokol pengendalian dan pembatasan pergerakan hewan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Baca Juga: Rahasia Awet Muda Jerry Yan di Usia 49 Tahun, Rajin Olahraga hingga Jarang Main HP
Gejala Infeksi yang Perlu Diwaspadai
Pada hewan, infeksi New World screwworm biasanya ditandai dengan:
- Luka yang membesar dan sulit sembuh
- Munculnya belatung pada area luka
- Pembengkakan dan peradangan
- Bau tidak sedap dari luka
- Penurunan nafsu makan
- Kondisi tubuh melemah
Deteksi dini dan penanganan cepat menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Baca Juga: Apakah Nutrisi Susu Hilang Setelah Dipanaskan? Profesor IPB Beri Penjelasan
Editor : Ubaidillah