RadarBangkalan.id - Probiotik semakin populer karena dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, terutama dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Berbagai produk makanan dan minuman kini menggunakan label probiotik untuk menarik perhatian konsumen yang ingin menjalani pola hidup lebih sehat.
Namun, ada satu hal yang sering luput diperhatikan, yaitu kandungan gula.
Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru
Sejumlah produk minuman probiotik di pasaran diketahui memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 12 hingga 20 gram per 100 mililiter.
Kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, probiotik dapat membantu kesehatan pencernaan. Di sisi lain, konsumsi gula berlebihan tetap memiliki risiko terhadap gangguan metabolik, termasuk diabetes.
Manfaat Probiotik bagi Kesehatan Usus
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup.
Bakteri baik ini membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yaitu kumpulan mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan manusia.
Baca Juga: Viral Siti Zahro Idap Kista Ovarium 29 Cm, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejalanya
Mikrobiota usus memiliki berbagai peran penting, seperti:
- Membantu proses pencernaan.
- Mendukung penyerapan zat gizi.
- Berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
- Membantu menghasilkan senyawa metabolik tertentu.
- Berhubungan dengan komunikasi antara usus dan otak.
Karena manfaat tersebut, produk probiotik sering dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan minuman manis biasa.
Namun, manfaat tersebut tidak boleh membuat konsumen mengabaikan kandungan lain dalam produk.
Baca Juga: 4 Laga Piala Dunia 2026 Hari Ini, Jerman vs Curacao dan Belanda vs Jepang Jadi Sorotan
Label Sehat Bisa Membuat Konsumen Lupa Cek Gula
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, mengingatkan bahwa minuman probiotik tinggi gula tetap dapat meningkatkan risiko diabetes.
"Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, komposisi minuman-minuman manis itu ya, meningkatkan risiko diabetes lebih tinggi," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat perlu mewaspadai fenomena health halo effect, yaitu kecenderungan menganggap suatu produk sepenuhnya sehat hanya karena memiliki satu manfaat tertentu.
Pada produk probiotik, kandungan bakteri baik sering menjadi perhatian utama, sementara jumlah gula yang terkandung di dalamnya kurang diperhatikan.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Padahal, manfaat probiotik dan jumlah gula harus dilihat secara bersamaan.
Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan
Apakah Gula Dibutuhkan Bakteri Probiotik?
Salah satu alasan yang sering dikaitkan dengan kandungan gula pada produk probiotik adalah kebutuhan bakteri selama proses fermentasi.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Prof Dra Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., PhD, menjelaskan bahwa gula memang dapat menjadi sumber energi bagi bakteri selama proses fermentasi.
Dalam proses produksi, konsentrasi gula tertentu dibutuhkan agar bakteri tetap hidup dan proses fermentasi berjalan optimal.
Kemampuan bakteri untuk tetap hidup hingga dikonsumsi disebut viabilitas. Hal ini penting karena probiotik hanya dapat memberikan manfaat apabila mikroorganisme tersebut masih hidup dan tersedia dalam jumlah yang memadai.
Namun, jumlah gula tinggi pada produk akhir tidak selalu berarti seluruhnya digunakan untuk kebutuhan bakteri.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Sebagian Gula Bisa Ditambahkan untuk Rasa
Menurut Prof Wellyzar, beberapa produk minuman susu fermentasi mendapatkan tambahan gula setelah proses fermentasi selesai.
Penambahan tersebut bertujuan mengurangi rasa asam hasil fermentasi agar produk lebih mudah diterima konsumen.
Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda
Artinya, tidak semua gula dalam minuman probiotik berfungsi sebagai makanan bagi bakteri.
Sebagian gula memang dapat berasal dari kebutuhan produksi, tetapi sebagian lainnya ditambahkan untuk menciptakan rasa yang lebih disukai.
Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru
Probiotik Tetap Boleh Dikonsumsi, Asal Perhatikan Gula
Mengonsumsi produk probiotik bukan berarti harus dihindari. Manfaat bakteri baik terhadap kesehatan usus tetap memiliki dasar ilmiah.
Namun, konsumsi perlu dilakukan secara bijak, terutama bagi orang yang memiliki risiko diabetes atau sedang mengontrol asupan gula.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan sebelum membeli produk probiotik:
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
- Periksa label informasi gizi.
- Perhatikan jumlah gula per sajian.
- Jangan menganggap semua produk berlabel sehat bebas risiko.
- Sesuaikan konsumsi dengan kebutuhan tubuh.
Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh satu komponen dalam makanan. Produk probiotik dapat membantu menjaga kesehatan usus, tetapi kandungan gula tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Dengan memilih produk secara lebih cermat, manfaat probiotik bisa diperoleh tanpa menambah risiko akibat konsumsi gula berlebihan.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Editor : Ubaidillah