News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kasus Guru Tampar Siswa di Subang Viral, Dedi Mulyadi Minta Guru Tetap Tegas Namun Tanpa Kekerasan

Ubaidillah • Kamis, 6 November 2025 | 02:42 WIB
VIRAL MEDIA SOSIAL - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersama Guru IPS SMP Negeri 2 Jalancagak, Rana Saputra. Dedi Mulyadi mengingatkan kepada setiap guru untuk tidak perlu khawatir dalam mendidik.
VIRAL MEDIA SOSIAL - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi bersama Guru IPS SMP Negeri 2 Jalancagak, Rana Saputra. Dedi Mulyadi mengingatkan kepada setiap guru untuk tidak perlu khawatir dalam mendidik.

Radarbangkalan.id - Kasus penamparan siswa yang dilakukan oleh Rana Saputra, guru IPS di SMP Negeri 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, menjadi viral di media sosial.

Peristiwa ini menarik perhatian publik hingga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut turun tangan memberikan tanggapan.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah 1-3 dari Zambia di Piala Dunia U-17 2025, Ini Evaluasi yang Harus Diperbaiki

Namun, langkah yang diambil Dedi Mulyadi tidak sesuai harapan dari Deni Rukmana (38), orangtua siswa berinisial ZR (16). Rana Saputra justru mendapatkan pembelaan dan perlindungan dari Dedi.

Ia mengingatkan para guru agar tidak takut dalam mendidik siswa, selama dilakukan dengan sikap tegas dan bertanggung jawab.

Menurut Dedi Mulyadi, guru tetap memiliki kewajiban mendidik dan menegakkan kedisiplinan di sekolah. Namun, ia juga menegaskan bahwa orangtua dan sekolah harus bekerja sama dalam mendidik anak.

"Yang penting semangat, jangan pernah takut, terus mengajar dengan baik dan tegas," ujar Dedi Mulyadi seperti dikutip dari media.

Ia menjelaskan, tindakan itu dilakukan karena siswa sebelumnya melakukan pelanggaran berulang seperti merokok, berkelahi, mengganggu kelas lain, hingga melompati pagar sekolah.

Dedi menyebut bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ketika berada di sekolah, anak menjadi tanggung jawab guru.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah 1-3 dari Zambia di Piala Dunia U-17 2025, Ini Evaluasi yang Harus Diperbaiki

Saat kembali ke rumah, orangtua yang memiliki peran utama. Karena itu, kedua pihak harus saling menghargai. Meski demikian, Dedi menekankan bahwa kekerasan bukan solusi dalam proses mendidik.

Klarifikasi dari Pihak Sekolah
Pihak SMPN 2 Jalancagak menyatakan bahwa kejadian tersebut berawal dari upaya pendisiplinan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Yaumi Basuki, menjelaskan bahwa delapan siswa, termasuk ZR, melakukan pelanggaran dengan melompati pagar sekolah yang baru saja selesai dibangun.

Menurut Yaumi, guru memberikan tamparan ringan sebagai bentuk sanksi disiplin, namun pihak sekolah mengakui cara tersebut tidak tepat.

Setelah kejadian, mediasi dilakukan antara guru dan orangtua ZR. Keduanya disebut telah saling memaafkan. Namun, orangtua kemudian tetap mengunggah video perselisihan tersebut ke media sosial.

Yaumi menegaskan bahwa ke depan sekolah akan mencari metode pendisiplinan yang tidak melibatkan kekerasan fisik.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah 1-3 dari Zambia di Piala Dunia U-17 2025, Ini Evaluasi yang Harus Diperbaiki

Orangtua Sempat Mengancam Melapor ke Dedi Mulyadi
Dalam video yang viral, terlihat orangtua siswa dan guru bersitegang di ruang kelas. Orangtua menilai tindakan menampar tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Harusnya panggil orangtua ya pak, jangan main tangan sendiri,” ujar orangtua siswa dalam video tersebut.

Guru Rana kemudian menjelaskan bahwa tindakan tegas dilakukan karena siswa sudah sering melakukan pelanggaran meskipun telah diberi peringatan berkali-kali.

Namun perselisihan makin memanas saat guru menyatakan, “Kalau tidak cocok, pindah saja cari sekolah yang bagus.”

Kasus ini menjadi sorotan karena menyentuh isu sensitif dalam dunia pendidikan: batas antara sikap tegas dan kekerasan fisik, serta hubungan antara guru dan orangtua dalam proses mendidik anak.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-17 Kalah 1-3 dari Zambia di Piala Dunia U-17 2025, Ini Evaluasi yang Harus Diperbaiki

Pesan penting dari kejadian ini: kedisiplinan tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tepat dan tanpa kekerasan, sementara komunikasi antara guru dan orangtua harus terus dijaga.

Editor : Ubaidillah
#dedi mulyadi #berita viral #Viral media sosial #SMP Negeri 2 Jalancagak