RadarBangkalan.id - Banyak orang tua menghadapi situasi ketika anak hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, seperti nasi dan telur atau nugget setiap hari. Demi memastikan anak tetap makan, tidak sedikit orang tua yang akhirnya membiarkan pola makan tersebut terus berlangsung.
Padahal, menurut dokter spesialis gizi klinik dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, kebiasaan tersebut merupakan salah satu kesalahan yang paling sering ditemukan dalam pola makan anak.
Baca Juga: Viral Influencer Minum 11 Suplemen Sekaligus, Amankah bagi Kesehatan? Ini Kata Ahli
Menurut dr Diana, sebagian orang tua terlalu cepat menyerah ketika anak menolak makanan baru. Akibatnya, menu harian anak menjadi sangat terbatas dan kurang bervariasi.
"Orang tua sering membiarkan anak memilih makanan yang sama terus-menerus karena yang penting anak mau makan. Padahal anak perlu dikenalkan dengan berbagai jenis makanan," ujarnya dalam talkshow bersama Frisian Flag, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: BGN Ungkap Penyebab Ribuan Dapur MBG Disuspend, dari Dugaan Mark Up hingga Kasus Keracunan
Penolakan Makanan Baru Adalah Hal yang Wajar
Dr Diana menjelaskan bahwa anak yang menolak makanan baru bukan berarti tidak menyukainya selamanya. Pada masa pertumbuhan, anak sedang belajar mengenal rasa, aroma, tekstur, dan bentuk makanan yang berbeda.
Karena itu, penolakan terhadap makanan baru merupakan hal yang normal dan sering terjadi.
Baca Juga: Kenkulus Viral Disebut Balita Genius, Ini Menu Makanan Favorit yang Dikonsumsi Sejak Kecil
Banyak orang tua langsung menyimpulkan anak tidak menyukai suatu makanan setelah satu atau dua kali percobaan. Padahal, proses penerimaan makanan baru membutuhkan waktu dan pengulangan.
Menurutnya, anak sering kali memerlukan banyak paparan sebelum akhirnya mau menerima makanan tertentu sebagai bagian dari menu sehari-hari.
Baca Juga: Orang Indonesia Dinilai Terlalu Banyak Konsumsi Karbohidrat, Asupan Protein Sering Terlupakan
Kenalkan Makanan Baru Berulang Kali
Salah satu kunci yang ditekankan dr Diana adalah konsistensi orang tua dalam mengenalkan makanan baru kepada anak.
Ia menjelaskan bahwa seorang anak bisa saja baru menerima suatu makanan setelah dicoba berkali-kali. Karena itu, penolakan di awal tidak seharusnya membuat orang tua langsung menghentikan upaya mengenalkan makanan tersebut.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Diduga Akibat Manicure UV, Dokter Bagikan Tips Aman
Menurut dr Diana, tidak jarang anak baru mau menerima makanan tertentu setelah puluhan kali percobaan.
Pendekatan yang sama juga berlaku pada sayuran. Banyak anak awalnya menolak sayur karena warna, aroma, atau teksturnya. Namun dengan pengenalan yang konsisten, anak dapat terbiasa dan akhirnya menerima makanan tersebut.
Mulai dengan Porsi Kecil dan Campurkan ke Menu Favorit
Dr Diana menyarankan orang tua untuk mengenalkan makanan baru secara bertahap. Tidak perlu langsung memberikan makanan dalam bentuk utuh jika anak belum terbiasa.
Baca Juga: Kenapa Pelari Sering Mules Sebelum Race? Dokter Ungkap Penyebabnya
Sebagai contoh, daging yang belum disukai anak dapat dicincang halus dan dicampurkan ke dalam makanan favoritnya. Cara ini membantu anak beradaptasi dengan rasa dan tekstur baru tanpa merasa terpaksa.
Pengenalan makanan secara perlahan dinilai lebih efektif karena membuat anak lebih mudah menerima variasi makanan baru dalam menu hariannya.
Baca Juga: Gejala Stroke pada Anak Muda Kerap Tak Disadari, Ini Tanda-Tandanya
Variasi Makanan Penting untuk Tumbuh Kembang Anak
Tubuh anak membutuhkan berbagai jenis nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.
Apabila anak hanya mengonsumsi satu atau dua jenis makanan secara terus-menerus, risiko kekurangan zat gizi tertentu dapat meningkat.
Karena itu, tujuan makan bukan hanya membuat anak kenyang, tetapi juga memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi melalui variasi makanan yang beragam.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Usai 18 Tahun Pakai UV Nail Lamp, Ini Kata Dokter
Dengan membangun kebiasaan makan sehat sejak dini, anak dapat memperoleh asupan gizi yang lebih lengkap sekaligus mengembangkan pola makan yang baik hingga dewasa.
Editor : Ubaidillah